Rabu, 20 Juni 2012

Srikaya, Buah Manis dengan Manfaat Luar Biasa

Bagi anda penggemar buah pasti sudah mengenal Buah Srikaya, mungkin sebagian dari anda ada yang suka dan ada yang tidak. Buah yang memiliki rasa daging yang manis ini ternyata menyimpan banyak vitamin yang baik untuk kesehatan tubuh dan kulit anda. Srikaya mengandung antioksidan, seperti vitamin C, yang membantu melawan radikal bebas dalam tubuh. Berikut Info Kesehatan mengenai keajaiban dari Buah Srikaya, berikut info selengkapnya.



Buah Srikaya Memiliki Banyak Manfaat Bagi Tubuh Dan Kulit Kita



Srikaya menyimpan sejuta khasiat kesehatan. Buah yang juga disebut sebagai custard apel atau sugar apple oleh pelaut Inggris ini, salah satunya bermanfaat untuk kecantikan.



Srikaya mengandung antioksidan, seperti vitamin C, yang membantu melawan radikal bebas dalam tubuh. Kalium tinggi dan magnesium yang terkandung dalam buah ini juga bisa melindungi Anda dari serangan penyakit jantung, seperti dikutip dari laman Times of India.



Jika ingin mempercantik kulit secara alami, konsumsilah srikaya secara rutin. Buah ini mengandung vitamin A yang bermanfaat untuk menjaga kulit, kesehatan rambut, serta meningkatkan fungsi mata.



Tidak hanya itu, buah yang biasa dijadikan selai dalam roti ini ternyata juga berkhasiat untuk mengontrol tekanan darah dan membantu menormalkan fungsi pencernaan, menyembuhkan sembelit, dan mengobati diare serta disentri.



Itu sebabnya, sangat penting untuk menyertakan buah ini dalam diet harian Anda. Buah ini mengandung magnesium yang tinggi, mampu menyeimbangkan air dalam tubuh, membantu menghilangkan asam dari sendi dan mengurangi gejala rematik serta radang sendi.



Bila sering mengalami kelelahan yang berlebihan, Anda bisa mengonsumsi srikaya. Sebab, kalium yang terkandung di dalamnya dapat membantu melawan kelemahan otot.



Buah ini juga bermanfaat untuk orang yang menderita anemia, karena buah ini tinggi kalori. Dan jika Anda ingin menambah berat badan, tak ada salahnya mengonsumsi srikaya secara rutin. Srikaya terkenal dengan kandungan gula alami, untuk itu baik jika buah ini dijadikan camilan atau hidangan penutup Anda.
 
sumber  http://epetani.deptan.go.id/budidaya/srikaya-buah-manis-dengan-manfaat-luar-biasa-3930

Buah Kepel

img_0409Jika sampeyan-sampeyan berkunjung ke Kota Magelang dari arah Jogja dan ketika sampai di daerah bangjo Armada Mertoyudan (perbatasaan antara Kota Magelang dan Kabupaten Magelang) tengoklah sebelah kiri sampeyan tepatnya pada sebuah lahan berbentuk segitiga maka sampeyan akan melihat banyak pohon yang buahnya tidak menempel di dahan layaknya pohon-pohon lainnya. Namun buahnya menempel pada batangnya. Subhanallah.
Wong Jawa menamainya dengan Kepel (karena besar buahnya sebesar kepalan tangan) dalam bahasa Indonesia disebut dengan Burahol, diambil dari Stelechocarpus burahol (nama ilmiahnya). Konon ini adalah buah kesukaan kerabat keraton (Jogja dan Solo) karena menyebabkan keringat dan air kencing berbau tidak menyengat alias berbau harum. Makanya tidak mengherankan jika di Kraton (Solo dan Jogja) banyak tumbuh pohon ini.
Divisi : Spermatophyta
Filum (Sub Divisi) : Magnoliophyta (nama baru dari Angiospermae) - Tumbuhan berbiji terbuka
Kelas : Magnoliopsida (nama baru dari Dicotyledonae) - Tumbuhan berbiji belah/bercabang
Ordo (Bangsa) : Fabales - Tumbuhan berbunga
Famili (Suku) : Annonaceae
Genus (Marga) : Stelechocarpus
Spesies : Stelechocarpus burahol (Blume) Hook. & Thomson
Secara geografis, tanaman ini dapat tumbuh dan banyak dijumpai di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaysia. Namun saat ini, tanaman ini tergolong tanaman langka. Di Jawa Tengah dan Jogja, lebih dikarenakan takut kuwalat karena meniru perilaku orang keraton makanya oleh para kawula alit tanaman ini dibabat habis. Sedangkan di Jawa Barat, masyarakat membabat tanaman ini karena menganggap tidak ada nilai ekonomisnya.
img_0429Ciri-ciri (anatomi) pohon Kepel adalah pohonnya tegak dengan tinggi mencapai 25 M. Daunnya berwana hijau gelap berbentuk lanset (bulat telor), tidak berbulu dan merotal tipis dengan pangkal daun panjangnya mencapai 1,5 cm. Tajuk atau kanopinya berbentuk kubah meruncing (layaknya pohon cemara). Cabang-cabangnya mendatar, sementara batangnya berwarna coklat cenderung hitam dengan diameter berkisar 40 cm.
Bunganya muncul pada tonjolan-tonjolan batang adalah bunga yang berkelamin tunggal, mula-mula berwarna hijau kemudian berubah menjadi keputih-putihan. Bunga jantannya terletak di batang sebelah atas dan di cabang-cabang yang lebih tua, berkumpul sebanyak 8-16 kuntum berdiameter 1 cm. Sementara bunga betinanya hanya berada di pangkal batang, diameternya mencapai 3 cm.
img_0430Buahnya bergerombol antara 1-13 buah. Panjang tangkai buahnya mencapai 8 cm; buah yang matang hampir bulat bentuknya, berwarna kecoklat-coklatan, diameternya 5-6 cm, dan berisi sari buah yang dapat dimakan. Bijinya berbentuk menjorong, berjumlah 4-6 butir, panjangnya sekitar 3 cm. Berat segar buah antara 62-105 g, dengan bagian yang dapat dimakan sebanyak 49% dan bijinya 27% dari berat buah segar. Buah kepel dianggap matang jika digores kulit buahnya terlihat berwarna kuning atau coklat muda.
Tanaman Kepel dapat tumbuh subur pada tanah lembab dataran rendah hingga sedang (100-610 m dpl). Perkembangbikannya generatif yakni dengan biji. Proses cangkok dan stek (vegetatif) tidak berhasil. Tanaman kepel relatif kebal penyakit (sampai saat ini belum ada laporan tentang jenis penyakitnya) sementara hama tanaman ini adalah kelelawar dan binatang pengerat (misal: tikus).
mbukak-kepelManfaat buah kepel, seperti saya sampaikan diatas, adalah sebagai deodoran putri keraton. Selain itu juga digunakan sebagai peluruh kencing, pencegah radang ginjal. Buah kepel juga dapat menyebabkan kemandulan sementara pada perempuan, sehingga banyak digunakan untuk KB. Kayu batangnya dimanfaatkan sebagai perkakas rumah tangga. Tanaman Kepel juga dapat berfungsi sebagai tamanan hias peneduh. Daunnya adalah penangkap radikal bebas (anti-kanker)


Kepel adalah nama pohon dan buah yang mempunyai nama ilmiah Stelechocarpus burahol. Tumbuhan penghasil buah yang menjadi kegemaran para putri keraton Jawa sejak jaman dulu ini kini termasuk salah satu tanaman langka di Indonesia. Pohon Kepel yang dipercaya mempunyai nilai filosofi adhiluhung ini merupakan flora identitas provinsi Daerah Istimewa Jogyakarta.
Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) di beberapa daerah di Indonesia dikenal juga sebagai buah dan pohon kecindul, cindul, simpol, burahol, dan turalak. Dalam bahasa Inggris tumbuhan langka ini dikela sebagai Kepel Aple. Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) disebut Stelechocarpus burahol.
Pohon Kepel menjadi kegemaran para putri keraton di Jawa selain lantaran memiliki nilai filosofi sebagai perlambang kesatuan dan keutuhan mental dan fisik, buah kepel juga dipercaya mempunyai berbagai khasiat dibidang kecantikan. Buah Kepel telah menjadi deodoran (penghilang bau badan) bagi para putri keraton. Sayang justru karena itu masyarakat jelata tidak berani menanam pohon ini sehingga menjadi langka.
Ciri-ciri Kepel. Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) mempunyai tinggi hingga 25 m dengan diameter batang mencapai 40 cm. Pada kulit batangnya terdapat benjolan-benjolan. Benjolan-benjolan ini merupakan bekas tempat bunga dan buah karena bunga dan buah kepel memang muncul di batang pohon bukannya di pucuk ranting atau dahan.
Daun Kepel tunggal, lonjong meruncing dengan panjang antara 12 – 27 cm dan lebar 5 – 9 cm. Warna daun Kepel hijau gelap. Bunga berkelamin tunggal, harum. Bunga jantan terdapat pada batang bagian atas atau cabang yang tua bergerombol antara 8 sampai 16. Sedangkan bunga betina hanya terdapat pada batang bagian bawah.
Pohon kepel (Stelechocarpus burahol)
Buah Kepel tumbuh memenuhi batang pohonnya. Bentuk buah Kepel bulat lonjong dengan bagian pangkal agak meruncing. Warna buah Kepel (Stelechocarpus burahol) coklat agak keabu-abuan, dan ketika sudah tua akan berubah menjadi coklat tua. Daging buah berwarna agak kekuningan sampai kecoklatan membungkus biji yang berukuran cukup besar. Rasa buah Kepel manis.
Habitat dan Persebaran. Pohon Kepel atau Burahol tersebar di kawasan Asia Tenggara mulai dari Malaysia, Indonesia hingga Kepulauan Solomon bahkan Australia. Di Indonesia, terutama di Jawa, Pohon Kepel mulai jarang dan langka.
Pohon Kepel dapat tumbuh di habitat yang berupa hutan sekunder yang terdapat di dataran rendah hingga ketinggian 600 mdpl.
Konservasi Pohon Kepel. Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) menjadi salah satu pohon yang langka. Kelangkaan tanaman ini lebih disebabkan oleh adanya anggapan pohon ini sebagai pohon keraton yang hanya pantas di tanam di istana. Rakyat jelata, khususnya masyarakat Jawa akan merasa takut mendapatkan tuah (kuwalat) jika menanam pohon ini.
Selain itu, sebagian masyarakat juga merasa buah ini malas untuk membudidayakannya. Meskipun memiliki rasa yang manis tetapi sebagian besar isi buah dipenuhi biji sehingga mengurangi minat orang untuk membudidayakannya.
Kini, pohon langka ini masih dapat ditemui di kawasan keraton Yogyakarta, TMII, Taman Kiai Langgeng Magelang, dan Kebun Raya Bogor.
Filosofi dan Manfaat Kepel. Buah Kepel (Stelechocarpus burahol) yang buahnya seukuran kepalan tangan orang dewasa mempunyai filosofi sebagai perlambang kesatuan dan keutuhan mental dan fisik karena seperti tangan yang terkepal.
Buah Kepel sejak zaman dahulu telah dipergunakan oleh para putri keraton sebagai penghilang bau badan dan pewangi badan. Selain itu juga dipercaya sebagai salah satu sarana kontrasepsi sebagai sterilitas wanita (KB).
Daging buah kepel dipercaya mempunyai khasiat memperlancar air kencing, mencegah inflamasi ginjal. Kayu pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) dapat digunakan sebagai bahan industri atau bahan perabot rumah tangga  dan bahan bangunan yang tahan lebih dari 50 tahun. Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol.
Sebuah ironi, pohon Kepel yang sarat filosofi dan manfaat lagi digemari oleh para putri keraton justru pohon tersebut menjadi langka dan terancam punah lantaran rakyat jelata takut kuwalat jika ikut menanamnya. Adakah ini menyiratkan kepada kita bahwa kita tidak boleh terlalu menggantungkan asa pada para penguasa. Kitalah, segenap rakyat yang bisa menentukan lestari tidaknya alam ini termasuk pohon Kepel, pohon Burahol.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae. Filum: Magnoliophyta. Kelas: Magnoliopsida. Ordo: Fabales. Famili: Annonaceae. Genus: Stelechocarpus. Spesies: Stelechocarpus burahol.


sumber\:             berbagai sumber. http://alamendah.wordpress.com/2010/02/16/buah-kepel-stelechocarpus-burahol-kegemaran-putri-keraton/
Pustaka : Buku Pegangan Kuliah (BPK) Anatomi Tumbuhan dan Botani Umum terbitan Fakultas Pertanian UNS, tahun 1999.

Pohon Jamblang/duwet (Syzygium cumini)

Jamblang atau Duwet adalah nama buah dan pohon untuk tanaman bernama ilmiah Syzygium cumini. Pohon penghasil buah ini masih tergolong dalam suku jambu-jambuan (Myrtaceae). Jamblang atau Duwet kini termasuk salah satu tanaman yang mulai terlupakan bahkan langka dan jarang dibudidayakan. Konon, pohon Jamblang (Syzygium cumini) merupakan rumah bagi para hantu.
Jamblang atau Duwet di beberapa daerah di Indonesia dikenal dengan nama yang berbeda-beda. Seperti; jambe kleng (Aceh), jambu kling (Gayo), jambu kalang (Minang kabau), jamblang (Betawi dan Sunda), juwet, duwet, duwet manting (Jawa), dhalas, d. bato, dhuwak (Madura), juwet, jujutan (Bali), klayu (Sasak), duwe (Bima), jambulan (Flores), raporapo jawa (Makasar), alicopeng (Bugis), jambula (Ternate).
Di beberapa negara asing buah ini dikenal sebagai jamlang, jambelang, duwet (Malaysia), duhat (Filipina), jambul, jamun, atau Java plum (Inggris). Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) dikenal sebagai Syzygium cumini.
Pohon Jamblang (Duwet) diperkirakan berasal dari Kawasan Asia dan Australia tropic. Tanaman ini dapat tumbuh di daerah dataran rendah hingga ketinggian 500 mdpl. Entah kenapa pohon ini diidentikan sebagai rumahnya para hantu, saya sendiri tidak tahu.
Ciri-ciri Fisik. Pohon Jamblang (Syzygium cumini) kokoh dan memiliki tinggi 10-20 m. Batangnya tebal, seringkali bengkok dan bercabang banyak. Berakar tunggang. Daun Jamblang tunggal, tebal, dengan tangkai daun antara 1-3,5 cm. Masing-masing helai daun lebar berbentuk baji, tetapi rata, pertulangan menyirip, permukaan atas mengkilap, panjang 7-16 cm, lebar -9 cm, warnanya hijau.

Buah Jamblang yang telah masak
Bunga Jamblang (Syzygium cumini) merupakan bunga majemuk berbentuk malai dengan cabang yang berjatuhan.  Bunga tumbuh di ketiak daun dan di ujung percabangan. Kelopak bunga Jamblang berbentuk lonceng berwarna hijau muda. Mahkota bunga berbentuk bulat telur dengan banyak benang sari yang berwarna putih dan harum baunya.
Buah Jamblang berbentuk lonjong dengan panjang antara 2-3 cm. Ketika masih muda buah Jambang (Duwet) berwarna hijau, setelah masak warnanya merah keungu-unguan agak kehitaman atau terkadang agak keputih-putihan. Daging buah Jamblang berwarna putih, kuning kelabu hingga agak merah ungu dengan banyak sari buah. Buah Jamblang berasa sepat masam sampai masam manis. Biji lonjong dengan panjang mencapai 3,5 cm.
Pemanfaatan Buah dan Pohon Jamblang. Menurut situs iptek.net.id, daging buah jamblang (Syzygium cumini) yang rasanya asam manis berkhasiat melumas organ paru, menghentikan batuk, peluruh kencing (diuretik), peluruh kentut (karminatif), memperbaiki gangguan pencernaan, merangsang keluarnya air liur, dan menurunkan kadar glukosa darah (hipoglikemik).
Kulit kayu Jamblang (Juwet) berkhasiat untuk peluruh haid. Hasil penelitian menunjukkan biji, daun, dan kulit kayu jamblang mempunyai khasiat menurunkan kadar glukosa darah (efek hipoglikemik) pada penderita diabetes melitus tipe II.
Penelitian di India mendapatkan hasil bahwa buah jamblang potensial sebagai obat kontrasepsi pada pria. Pada percobaan binatang, jamblang dapat mencegah timbulnya katarak akibat diabetes. Jamblang juga menurunkan risiko timbulnya atherosklerosis sampai 60–90% pada penderita diabetes. Hal ini terjadi karena kandungan oleanolic acid pada jamblang dapat menekan peran radikal bebas dalam pembentukan atherosklerosis.
Buah Jamblang Langka. Buah Jamblang (meski saya biasa menyebutnya ‘Duwet) semakin hari semakin langka. Meskipun saya masih sering menemui pohon ini di daerah pedesaan di Pantura Jawa Tengah bagian timur, tetapi sepertinya mulai jarang yang memanfaatkan buahnya.
Dua hal di masa kecil yang saya ingat tentang pohon dan buah Jamblang. Pertama, sering saya memakan buah jamblang (duwet) beramai-ramai kemudian berlomba untuk menjadi yang terbiru lidahnya. Kedua, Saya sering ditakut-takuti untuk menjauhi pohon ini yang katanya adalah rumahnya para hantu. Bagaimana dengan para sahabat?
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Myrtales; Famili: Myrtaceae; Genus: Syzygium; Spesies: Syzygium cumini;


Referensi: www.iptek.net.id Gambar: commons.wikimedia.org;
              http://alamendah.wordpress.com/2010/02/20/pohon-jamblang-syzygium-cumini-rumah-para-hantu/

Sawo Kecik,


Sawo Kecik (Manilkara kauki) sering disebut juga Sawo Jawa merupakan tanaman (pohon) penghasil buah dari keluarga sawo-sawoan (Sapotaceae) yang kini mulai langka dan jarang ditemukan di Indonesia. Sawo Kecik yang menurut filosofi jawa sering diidentikkan dengan ‘sarwo becik’ (serba baik). Di Yogyakarta kadang dijadikan tanaman pertanda bahwa orang yang menanamnya adalah abdi dalem kraton.
Tanaman penghasil buah yang batangnya mempunyai kayu yang keras dan kuat sehingga sangat baik untuk bahan bangunan, perabot rumah tangga, alat-alat pertukangan, bahkan dimanfaatkan sebagai benda-benda seni seperti patung, ukir-ukiran bahkan sebagai peralatan musik seperti badan biola dan rebana.
Daun dan buah Sawo Kecik (Manilkara kauki)
Sawo Kecik disebut juga sebagai Sawo Jawa. Sedangkan dalam bahasa Inggris, tanaman yang mulai langka ini disebut sebagai Caqui dan Manilkara. Di beberapa negara lain disebut Khirni (India), dan Lámút Sida atau Lámút Thai (Thailand). Sedangkan dalam bahasa ilmiah (latin) Sawo Kecik disebut sebagai Manilkara kauki yang bersinonim dengan Mimusops kauki, dan Manilkara kaukii.
Ciri-ciri. Pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki) berukuran sedang dengan tinggi mencapai 25 m. Diameter (garis tengah) batang pohon Sawo Kecik mampu mampu mencapai 100 cm.
Daun-daun Sawo Kecik mengelompok pada bagian ujung batang. Di permukaan bawah daun Sawo Kecik berwarna keputihan dan halus seperti beludru dengan tangkai daun tidak menebal, panjang kelopak daun 7 mm.. Kuncup bunga Sawo Kecik berbentuk bulat telur.
Buah Sawo Kecik berbentuk bulat telur atau bulat telur sungsang berukuran kecil dengan panjang berkisar 3.7 cm. Buah Sawo Kecik mempunyai kulit pembungkus yang sangat tipis namun mudah dikelupas. Buah Sawo Kecik, bila mask mempunyai rasa yang manis dan kadang-kadang terasa sedikit agak sepat.
Habitat dan Persebaran. Sawo Kecik (Manilkara kauki) diperkirakan berasal dari India dan tersebar serta banyak dibudidayakan di kawasan Asia Tropis dan Amerika Tropis. Di Indonesia, Sawo Kecik meskipun sudah mulai langka karena mulai jarang yang membudidayakan namun masih dapat ditemui di seluruh Indonesia kecuali Kalimantan.
Sawo kecik tumbuh subur di daerah pesisir (pantai) yang beriklim kering hingga daerah berketinggian sekitar 500 meter dpl. Pohon langka ini sering ditanam sebagai pohon peneduh, pohon buah (untuk dikonsumsi buahnya), dan sebagai pohon ornament yang biasa ditanam di dekat kuil atau istana.
Di Yogyakarta, Sawo Kecik yang biasa disebut sebagai Sawo Jawa dijadikan tanaman pertanda bahwa orang yang menanamnya adalah abdi dalem kraton. Bahkan di daerah Bali dan Nusa Tenggara pohon langka ini ditemukan tumbuh liar di pesisir pantai.
Pemanfaatan Pohon sawo Kecik. Meskipun Sawo Kecik merupakan pohon penghasil buah, namun tidak hanya buahnya saja yang dapat dimafaatkan. Batangnya banyak dipergunakan sebagai bahan bangunan, perabot rumah tangga, dan karya-karya seni seperti patung, ukiran, bahkan peralatan musik seperti rebana dan badan biola.

Buah Sawo Kecik yang telah masak
Pohon Sawo Kecik mampu tumbuh di daerah bertanah kurang subur bahkan mampu berfungsi sebagai pohon perintis dan tanaman pemulih areal-areal yang kurang subur dan kritis. Karena itu banyak yang menjadikan pohon Sawo Kecik sebagai batang bawah untuk okulasi atau penyambungan dengan pohon Sawo Manila (Manilkara zapota).
Untungnya, dalam penggalakkan program one man one tree, pohon Sawo Kecik banyak dijadikan pilihan sebagai pohon yang ditanam selain pohon Trembesi. Semoga, hal ini paling tidak menjadikan pohon penghasil buah ini terhindar dari kelangkaan hingga suatu ketika saya bisa leluasa membeli buah Sawo Kecik meskipun hanya di asar-pasar tradisonal seperti ketika masa kecil saya dulu.
Klasifikasi Ilmiah: Kingdom: Plantae; Subkingdom: Tracheobionta; Super Divisi: Spermatophyta; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Sub Kelas: Dilleniidae; Ordo: Ebenales; Famili: Sapotaceae; Genus: Manilkara; Spesies: Manilkara kauki; Sinonim; Mimusops kauki, Manilkara kaukii


Referensi dan gambar: www.proseanet.org/florakita/browser.php?docsid=931
                                     http://alamendah.wordpress.com/2010/04/03/sawo-kecik-pohon-sarwo-becik-      tapi-langka/

Mundu (Garcinia dulcis) Pohon Buah Langka

Mundu atau Garcinia dulcis merupakan sejenis pohon buah-buahan yang semakin langka anggota genus Garcinia yang berkerabat dekat dengan manggis (Garcinia mangostana) dan asem kandis (Garcinia parvifolia). Mundu dipercaya sebagai tanaman buah asli Indonesia yang hanya tumbuh di Jawa dan sebagian Kalimantan, meskipun tumbuhan ini juga tumbuh di Filipina dan Thailand.
Mundu di Jawa disebut juga rata, baros atau klendeng dalam bahasa Sunda dikenal sebagai jawura atau golodogpanto. Dalam bahasa Inggris dikenal juga dengan sebutan yang sama, mundu atau moendoe. Di Filipina disebut sebagai biniti atau bagalot, sedangkan di Thailand dikenal sebagai maphut. Dalam bahasa latin (ilmiah), mundu disebut Garcinia dulcis yang bersinonim dengan Garcinia longifolia, dan Xanthochymus javanensis.
Diskripsi dan Persebaran. Tumbuhan mundu (Garcinia dulcis) berupa pohon berbatang pendek dengan tinggi maksimal 13-15 meter dengan tajuk yang mengerucut ke atas. Batangnya mempunyai kulit berwarna coklat dan mempunyai semacam getah berwarna putih yang akan berubah menjadi coklat pucat saat kering. Batang mundu ditumbuhi banyak ranting berbentuk hampir persegi empat yang mudah patah dan berbulu halus.

Buah mundu, hati-hati saat memakannya
Daun mundu berbentuk bundar telur sampai lonjong jorong, panjang 10 – 30 cm dan lebar 3,5 – 14 cm, hijau pucat bila muda, permukaan atas hijau gelap dan mengkilat, pada bagian bawah dengan tulang tengah yang menonjol dan keras, urat-urat daun banyak dan paralel, panjang tangkai daun sampai 2 cm. Bunga mundu muncul di dekat pangkal daun berwarna kuning keputihan dan berbau harum.
Buah mundu berbentuk bulat dengan ujung atas dan bawah agak meruncing dengan diameter antara 5-8 cm. Buah berwarna hijau muda saat masih mentah dan berubah menjadi kuning cerah (mengkilat) ketika masak. Buah mundu (Garcinia dulcis) memiliki 1-5 biji berukuran 2,5 cm berwarna coklat. Daging buah mundu berwarna kuning dan mengandung banyak air. Rasa buahnya manis agak masam.
Pohon mundu tumbuh di Indonesia (Jawa dan sebagian Kalimantan) dan telah ditanam di negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand dan Filipina. Habitatnya adalah daerah dataran rendah hingga ketinggian 500 meter dpl.
Manfaat. Buah mundu dapat dimakan langsung dan diolah menjadi selai bahkan sebagai campuran jamu tradisional. Sedangkan kayu dan kulitnya, dahulu sering dipakai sebagai campuran pembuat warna hijau alami.
Yang perlu diperhatikan ketika memakan buah mundu secara langsung adalah getahnya. Buah yang banyak mengandung vitamin C ini memiliki getah yang kuat yang dapat membuat iritasi ringan di bibir bagi yang tidak terbiasa. Karena itu, jika hendak memakannya lebih baik mengupas dan mencucinya terlebih dahulu sehingga getah buah langka ini hilang dulu.
Penasaran dengan buah mundu nan langka ini?. Sobat-sobat yang ada di Jawa Timur mungkin masih bisa menjumpainya di depan Gelora Sepuluh November. Di sana terdapat Taman Mundu dengan sepasang pohon mundu yang ditanam sebagai ikon taman, semoga lestari.
Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Theales; Famili: Clusiaceae; Genus: Garcinia; Spesies: Garcinia dulcis
Nama Binomial: Garcinia dulcis; Nama Indonesia: Mundu


Referensi: www.plantamor.com; www.proseanet.org;
                http://alamendah.wordpress.com/2010/08/05/mundu-garcinia-dulcis-pohon-buah-langka/

Tanaman Indonesia Dalam Rekor MURI

Tanaman (flora) Indonesia, beberapa yang memiliki keunikan tercatat dalam rekor MURI (Musium Rekor-Dunia Indonesia). MURI yang didirikan atas prakarsa Jaya Suprana di kawasan industri Jamu Jago, Srondol, Semarang pada tanggal 27 Januari 1990. Lembaga yang bertujuan menghimpun data-data rekor superlatif yang hadir di Indonesia atau dibuat oleh putera-puteri bangsa Indonesia ini, ternyata mencatat beberapa rekor yang berkaitan dengan lingkungan hidup utamanya tanaman atau flora Indonesia.
Rekor-rekor itu antara lain: Pohon kelapa dengan cabang terbanyak, pohon jati dengan harga jual tertinggi (termahal), tanaman bunga matahari tertinggi dan terpendek, tunas kelapa unik, bambu papak (pring petuk), melon terberat, pohon pisang bercabang, pohon pisang terpendek dan pohon pisang bertandan terbanyak.

Pohon Kelapa dengan Cabang Terbanyak

Pohon Kelapa dengan Cabang TerbanyakSebatang Pohon Kelapa unik yang terdapat di kompleks Hotel Patrajasa Bali Resort (PJBR) di Tuban, Kabupaten Badung, Bali. Meskipun sebagai flora monokotil yang ditanam sejak tahun 1972 ini semula tumbuh normal. Namun sejak 1976 tanaman ini mulai bercabang hingga mempunyai 41 cabang.
Konon, setiap orang yang menghitung (dalam satu waktu, cara, dan metode), masing-masing akan mendapatkan jumlah yang berbeda satu sama jumlah yang berbeda satu sama lain. MURI melakukan penghitungan dua kali dengan jumlah yang tidak sama. Jumlah yang dibukukan, cabang pada pohon kelapa 41, terdiri dari 28 cabang hidup dan 13 cabang mati.

Pohon Jati Termahal

Pohon jati di petak 1.092 A Resor Pemangku Hutan Temengeng, Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Pasar Sore, KPH Cepu, Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah terjual dengan harga Rp 1 miliar. Tepatnya di Desa Temengeng, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah
Tinggi pohon Tectona grandis berusia antara 150-200 tahun itu setinggi 35 meter, berdiameter 3 meter, dengan keliling batang 6,9 meter. Tanaman ini dibeli pengusaha mebel dari Ngawi dan Blitar, Jawa Timur, Bobby Wibowo dan Saekoni.
Penjualan tersebut tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri) pada 10 Agustus 2007. Piagam penghargaan dari Muri itu akan diserahkan Direktur Muri Jaya Suprana kepada Direktur Utama Perum Perhutani Transtoto Handadhari dalam acara penebangan pohon jati tersebut, 23 Agustus 2007.

Tanaman Bunga Matahari Tertinggi

Tanaman bunga matahari TertinggiPohon Bunga Matahari Tertinggi dengan ukuran 2,75 meter. Rekoris, DR. Benny J. Mamoto, SH.Msi. Sulawesi Utara.

Tanaman bunga matahari TerpendekTanaman Bunga Matahari Terpendek

Pohon Bunga Matahari Terpendek dengan ukuran 20 cm. Rekoris, DR. Benny J. Mamoto, SH.Msi. Sulawesi Utara.

Tunas Kelapa Unik

Sebuah pohon kelapa bertunas 3 buah.  Rekoris : M. Yusuf Habiby.

bambu unik berbentuk papakPemilik Bambu Unik Berbentuk Papak (Pring Petuk)

Bapak Ichwam Bachtiar adalah pemilik bambu langka yang diberi nama Pring Petok berbentuk papak ukuran 15,5 cm. Pring petok ini sudah diteliti oleh tim ahli botanik dari Jepang.

Melon Terberat

melon terberatMelon  terberat di Indonesia, mempunyai berat 4,37 kg. Melon ini merupakan hasil kebun Ir Harsono Enggal Harjo, salah seorang donatur Yayasan Obor Tani, dengan support teknis dari Yayasan Obor Tani. Melon jenis Apollo ini ditanam di kebun buah di Dusun Soponyono, Desa Wonosari, Kecamatan Patebon, Kendal. Rekor ini tercatat pada 27 November 2007

Pohon Nanas UnikPohon Nanas Unik

Bapak  Sulo, Bingkanang, Pekanbaru, Riau, mempunyai pohon nanas yang unik karena memiliki 15 buah mahkota.

Pohon Pisang Bertandang Terbanyak

Pohon pisang dengan tandan mencapai 2,5 m dan berat 40 kg, berbuah hingga 220 sisir. Tanaman ini dimiliki oleh H. Fathorrahman.

Pohon Pisang Bercabang Banyak

Pohon pisang ini merupakan hasil pembiakan yang dilakukan oleh Drs. David Mulyono, Ambarawa, Jawa Tengah. Mereka berhasil mengembangbiakan tanaman pisang yang dapat bercabang lebih dari dua.

Tanaman Pisang Terpendek Berbuah

Tanaman pisang ini milik Suparwoto asal Yogyakarta, Indonesia. Pohon pisang ini lain dari pohon pisang pada umumnya, pertumbuhannya yang kerdil membuatnya eksklusif yaitu dengan ketinggian 17 cm sudah berbuah dan buahnya normal hingga matang pada usia 2 bulan.

Bengkoang TerberatBengkoang Terberat

Bengkoang terberat ini ditanam oleh Leo Sutisna. Bengkoan ini mampu berumbi sangat besar hingga mencapai ukuran keliling 124 cm dan berat, 21 kg.

Pohon Tertinggi dan Tertua

Untuk rekor Pohon tertinggi dan tertua di Indonesia sepertinya belum ada. Rekor pohon tertinggi di dunia sampai saat ini masih dipegang oleh sebatang pohon kayu merah (Sequoia sempervirens) yang tumbuh di California. Mungkin MURI kalah cepat dengan  para penebang hutan. Belum sempat tinggi sudah rebah terpotong lebih dahulu.
Referensi tulisan: www.muri.org dan beberapa media lain. Gambar: www.muri.org
                        http://alamendah.wordpress.com/2009/09/11/tanaman-indonesia-dalam-rekor-muri/

TERNYATA POHON BAOBAB AFRICAN / ASEM BUTO TERDAPAT SEGUDANG KASIAT

TERNYATA POHON BAOBAB AFRICAN / ASEM BUTO TERDAPAT SEGUDANG KASIAT BAGI KESEHATAN

"Foto diatas bibit pohon baobab adansonia digitata"

 "Foto diatas bibit pohon baobab adansonia Grandidieri"

 "Foto diatas paket bibit pohon baobab adansonia Grandidieri siap kirim" 
" semua foto diatas ini milik umum Boleh dipakai apa saja "
"Adalah artikel di sebuah media Eropa yang mencantumkan keistimewaan dari Superfruit bernama African baobab atau Adansonia Digitata, Adansonia Grandidieri, Adansonia Za, Adansonia Gibbosa, Adansonia Gregorii, Adansonia endargered,"
Dalam artikel di media Jerman tersebut, dikatakan bahwa buah dari pohon tersebut mengandung Vitamin C yang sangat tinggi, bahkan mencapai enam kali lebih banyak dari yang terkandung di dalam jeruk. Kadar kalsiumnya lebih banyak dari yang terdapat di susu.
"Daun dari pohon ini dapat dipergunakan untuk bahan lalap atau sayur, yang mengandung mineral sangat tinggi," katanya.
Untuk kulit pohon yang bernama lokalnya Ki Tambleg tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat, seperti bahan membuat tali bahkan pakaian.
"Pohon ini ditengarai juga mengandung zat-zat yang dipergunakan sebagai obat untuk pengobatan tradisional," ujar mantan dekan FISIP UI tersebut.
Di Eropa, buah pohon tersebut diterima sebagai produk alam dari Afrika yang kemudian daging buahnya diproduksi dalam kemasan bubuk yang khusus dipergunakan masyarakat Eropa, sebagai penambah bahan untuk mengolah sup dan berbagai makanan olahan lainnya.
Mendapat informasi tentang keistimewaan pohon tersebut, pihaknya dua tahun lalu menulis surat yang ditujukan kepada Majalah Trubus, mengenai apakah tanaman ini di Indonesia dapat tumbuh dan bagaimana cara mendapatkan bibit pohon tersebut.
Surat tersebut dilandasi keinginan UI untuk menanam dan memasyarakatkan pohon tersebut di Indonesia, karena dengan khasiat yang luar biasa tersebut, pohon ini berpotensi dapat menjadi pohon masa datang, untuk mengawal peradaban manusia (sustainable future).
"Banyak tantangan dalam menghadapi kekurangan pangan, air dan energi, terutama jika dikaitkan dengan isu pemanasan global, serta perubahan iklim, dan pertambahan penduduk yang terus meningkat," katanya.
Oleh karena itu, pemanfaatan pohon ini akan menjadi salah satu tumpuan bangsa dan negara untuk mempersiapkan nutrisi, kalsium serta bahan pangan sayuran dan pengembangan obat-obatan herbal dari kulit mapun buah Baobab.
Dikatakannya, pangan yang terjangkau merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat, terlebih perguruan tinggi, yang mestinya menjadi di garda terdepan dalam upaya mengatasi persoalan negeri sekaligus tantangan peradaban dunia.
Untuk mengetahui lebih jauh khasiat pohon african baobab, UI akan melakukan penelitian terhadap pohon tersebut. "Nantinya herbal medicine (program studi S2 UI) akan melakukan penelitian," katanya.
Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero), Edi Budiono, menjelaskan ditemukannya khasiat nutrisi yang tinggi di pohon african baobab membuat dirinya termotivasi untuk menciptakan padi yang mempunyai varietas unggul dengan kandung nutrisi yang lengkap.
"Saya saat ini membayangkan bagaimana khasiat yang ada di pohon african baobab ada dalam tanaman padi," ujarnya.
Pohon African Baobab mempunyai khasiat yang tinggi, buahnya mempunyai kandungan vitamin C yang lebih tinggi dari jeruk dan kalsium yang lebih tinggi dari susu.
Edi mengatakan PT Sang Hyang Seri yang mempunyai luas lahan 3.500 hektare ini memasok kebutuhan pangan terutama bagi warga di Jawa Barat, dan mempunyai pabrik yang terbesar di Asia Tenggara.
Lebih lanjut ia mengatakan dengan menghibahkan pohon africa baobab kepada Universitas Indonesia (UI), maka akan terjalin kerja sama yang baik dengan universitas terkemuka di Indonesia tersebut.
"Maka ketika rektor meminta pohon tersebut untuk penelitian maka saya menyetujuinya. Tujuan pemindahan pohon tersebut untuk penelitian dan konservasi sehingga saya menyetujuinya," katanya.
Menurut dia, hibah pohon tersebut tidak ada nilai materinya, tetapi murni dari hati ke hati, untuk kemaslahatan umat manusia.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur PT Rajawali Nusantara Indonesia, Lestiono. Ia mengatakan pohon yang diminta rektor UI tersebut tidak ada satu pun yang diperjualbelikan, seluruhnya adalah hibah.
"Saya sebelumnya tidak tahu kalau pohon tersebut memiliki manfaat yang bagi kesehatan. Mudah-mudahn pohon tersebut bisa berguna bagi dunia pendidikan," katanya.
Setelah dua tahun menulis surat ke Majalah Trubus, ternyata di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat, terdapat puluhan pohon African Baobab yang diperkirakan ditanam Belanda lebih dari sekitar 160 tahun yang lalu. Bahkan ada dugaan pohon baobab yang lebih tua, usianya sekitar 700 tahun, ditanam oleh penduduk setempat.
Bibit tanaman tersebut dibawa oleh pedagang-pedagang dari Timur Tengah yang menyebarkan bibit pohon tersebut sejalan dengan penyebaran ajaran Islam di tanah air. "Salah satu lokasi penting tempat kita dapat menemukan pohon tersebut ialah Subang, Jawa Barat," ujarnya.
Kemudian, kata rektor, dia bersama tim mengunjungi lokasi perkebunan gula milik Pabrik Gula Rajawali II, setelah melakukan survei dan pendataan, kemudian mendiskusikan rencana relokasi pohon ke UI.
"Relokasi dimaksudkan agar nilai edukasi dari pohon tersebut dapat dioptimalkan di kampus UI," katanya.
Selain untuk konservasi, pohon-pohon tersebut juga akan dijadikan bahan penelitian di bidang ilmu kedokteran dan farmasi herbal, biologi dan pangan serta riset lain yang terkait.
Setelah berdiskusi dengan Direktur Utama dan bersama-sama menimbang manfaat besar pohon yang dikenal masyarakat dengan nama Asam Buto ini, akhirnya disepakati, BUMN PG Rajawali II, menyumbang lima pohon, dari 10 pohon yang terdapat di PT tersebut.
"Lima pohon yang akan tetap berada di komplek perkebunan dipertahankan untuk tetap berada di habitat aslinya," katanya.
Proses relokasi pohon melibatkan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi dengan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pelestarian lingkungan.
Selain itu, hal itu juga terkait upaya mendukung bangsa dan negara dalam mencari solusi atas persoalan-persoalan penting yang akan muncul di masa yang akan datang seperti persoalan nutrisi, pangan dan juga kebutuhan akan pengobatan alternatif serta penekanan pada pengobatan preventif.
Saat ini total pohon baobab yang telah direlokasi berjumlah tujuh pohon dari sepuluh pohon yang direncanakan. kelima pohon yang dipindahkan telah tumbuh baik di kampus UI, bahkan cabang-cabang di sekitar pohon sudah tampak dan tumbuh.

"Dua pohon baru kita tanam saat ini, dan tiga pohon berikutnya akan ditanam dalam beberapa hari ke depan," ujarnya.(Ant/BEY)


Sumber dari http://metrotvnews.com/
              http://www.pohon-langka.blogspot.com/
             :{disandur unntuk dikenalkan kepada khalayak]