"Foto diatas bibit pohon baobab adansonia digitata"
"Foto diatas bibit pohon baobab adansonia Grandidieri"
"Foto diatas paket bibit pohon baobab adansonia Grandidieri siap kirim"
" semua foto diatas ini milik umum Boleh dipakai apa saja "
"Adalah artikel di sebuah media Eropa yang mencantumkan keistimewaan dari Superfruit bernama
African baobab atau Adansonia Digitata, Adansonia Grandidieri, Adansonia Za, Adansonia Gibbosa, Adansonia Gregorii, Adansonia endargered,"
Dalam artikel di media Jerman tersebut, dikatakan bahwa buah dari pohon
tersebut mengandung Vitamin C yang sangat tinggi, bahkan mencapai enam
kali lebih banyak dari yang terkandung di dalam jeruk. Kadar kalsiumnya
lebih banyak dari yang terdapat di susu.
"Daun dari pohon ini dapat dipergunakan untuk bahan lalap atau sayur, yang mengandung mineral sangat tinggi," katanya.
Untuk kulit pohon yang bernama lokalnya Ki Tambleg tersebut dapat
digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat, seperti bahan membuat
tali bahkan pakaian.
"Pohon ini ditengarai juga mengandung zat-zat yang dipergunakan sebagai obat untuk pengobatan tradisional," ujar mantan dekan
FISIP UI tersebut.
Di Eropa, buah pohon tersebut diterima sebagai produk alam dari Afrika
yang kemudian daging buahnya diproduksi dalam kemasan bubuk yang khusus
dipergunakan masyarakat Eropa, sebagai penambah bahan untuk mengolah
sup dan berbagai makanan olahan lainnya.
Mendapat informasi tentang keistimewaan pohon tersebut, pihaknya dua
tahun lalu menulis surat yang ditujukan kepada Majalah Trubus, mengenai
apakah tanaman ini di Indonesia dapat tumbuh dan bagaimana cara
mendapatkan bibit pohon tersebut.
Surat tersebut dilandasi keinginan UI untuk menanam dan memasyarakatkan
pohon tersebut di Indonesia, karena dengan khasiat yang luar biasa
tersebut, pohon ini berpotensi dapat menjadi pohon masa datang, untuk
mengawal peradaban manusia (sustainable future).
"Banyak tantangan dalam menghadapi kekurangan pangan, air dan energi,
terutama jika dikaitkan dengan isu pemanasan global, serta perubahan
iklim, dan pertambahan penduduk yang terus meningkat," katanya.
Oleh karena itu, pemanfaatan pohon ini akan menjadi salah satu tumpuan
bangsa dan negara untuk mempersiapkan nutrisi, kalsium serta bahan
pangan sayuran dan pengembangan obat-obatan herbal dari kulit mapun
buah Baobab.
Dikatakannya, pangan yang terjangkau merupakan tanggung jawab bersama
pemerintah, masyarakat, terlebih perguruan tinggi, yang mestinya menjadi
di garda terdepan dalam upaya mengatasi persoalan negeri sekaligus
tantangan peradaban dunia.
Untuk mengetahui lebih jauh khasiat pohon african baobab, UI akan
melakukan penelitian terhadap pohon tersebut. "Nantinya herbal medicine
(program studi S2 UI) akan melakukan penelitian," katanya.
Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero), Edi Budiono, menjelaskan
ditemukannya khasiat nutrisi yang tinggi di pohon african baobab membuat
dirinya termotivasi untuk menciptakan padi yang mempunyai varietas
unggul dengan kandung nutrisi yang lengkap.
"Saya saat ini membayangkan bagaimana khasiat yang ada di pohon african baobab ada dalam tanaman padi," ujarnya.
Pohon African Baobab mempunyai khasiat yang tinggi, buahnya mempunyai
kandungan vitamin C yang lebih tinggi dari jeruk dan kalsium yang lebih
tinggi dari susu.
Edi mengatakan PT Sang Hyang Seri yang mempunyai luas lahan 3.500
hektare ini memasok kebutuhan pangan terutama bagi warga di Jawa Barat,
dan mempunyai pabrik yang terbesar di Asia Tenggara.
Lebih lanjut ia mengatakan dengan menghibahkan pohon africa baobab
kepada Universitas Indonesia (UI), maka akan terjalin kerja sama yang
baik dengan universitas terkemuka di Indonesia tersebut.
"Maka ketika rektor meminta pohon tersebut untuk penelitian maka saya
menyetujuinya. Tujuan pemindahan pohon tersebut untuk penelitian dan
konservasi sehingga saya menyetujuinya," katanya.
Menurut dia, hibah pohon tersebut tidak ada nilai materinya, tetapi murni dari hati ke hati, untuk kemaslahatan umat manusia.
Hal yang sama juga dikatakan oleh
Direktur PT Rajawali Nusantara Indonesia,
Lestiono. Ia mengatakan pohon yang diminta rektor UI tersebut tidak
ada satu pun yang diperjualbelikan, seluruhnya adalah hibah.
"Saya sebelumnya tidak tahu kalau pohon tersebut memiliki manfaat yang
bagi kesehatan. Mudah-mudahn pohon tersebut bisa berguna bagi dunia
pendidikan," katanya.
Setelah dua tahun menulis surat ke Majalah Trubus, ternyata di Pulau
Jawa, khususnya Jawa Barat, terdapat puluhan pohon African Baobab yang
diperkirakan ditanam Belanda lebih dari sekitar 160 tahun yang lalu.
Bahkan ada dugaan pohon baobab yang lebih tua, usianya sekitar 700
tahun, ditanam oleh penduduk setempat.
Bibit tanaman tersebut dibawa oleh pedagang-pedagang dari Timur Tengah
yang menyebarkan bibit pohon tersebut sejalan dengan penyebaran ajaran
Islam di tanah air. "Salah satu lokasi penting tempat kita dapat
menemukan pohon tersebut ialah Subang, Jawa Barat," ujarnya.
Kemudian, kata rektor, dia bersama tim mengunjungi lokasi perkebunan
gula milik Pabrik Gula Rajawali II, setelah melakukan survei dan
pendataan, kemudian mendiskusikan rencana relokasi pohon ke UI.
"Relokasi dimaksudkan agar nilai edukasi dari pohon tersebut dapat dioptimalkan di kampus UI," katanya.
Selain untuk konservasi, pohon-pohon tersebut juga akan dijadikan bahan
penelitian di bidang ilmu kedokteran dan farmasi herbal, biologi dan
pangan serta riset lain yang terkait.
Setelah berdiskusi dengan Direktur Utama dan bersama-sama menimbang
manfaat besar pohon yang dikenal masyarakat dengan nama Asam Buto ini,
akhirnya disepakati, BUMN PG Rajawali II, menyumbang lima pohon, dari 10
pohon yang terdapat di PT tersebut.
"Lima pohon yang akan tetap berada di komplek perkebunan dipertahankan untuk tetap berada di habitat aslinya," katanya.
Proses relokasi pohon melibatkan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi dengan menggunakan dana
Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pelestarian lingkungan.
Selain itu, hal itu juga terkait upaya mendukung bangsa dan negara dalam
mencari solusi atas persoalan-persoalan penting yang akan muncul di
masa yang akan datang seperti persoalan nutrisi, pangan dan juga
kebutuhan akan pengobatan alternatif serta penekanan pada pengobatan
preventif.
Saat ini total pohon baobab yang telah direlokasi berjumlah tujuh pohon
dari sepuluh pohon yang direncanakan. kelima pohon yang dipindahkan
telah tumbuh baik di kampus UI, bahkan cabang-cabang di sekitar pohon
sudah tampak dan tumbuh.
"Dua pohon baru kita tanam saat ini, dan tiga pohon berikutnya akan ditanam dalam beberapa hari ke depan," ujarnya.(Ant/BEY)