Jumat, 11 Maret 2011

Manisan Kering

Pengembangan agribisnis dan agroindustri sangat mungkin di kembangkan di Indonesia, mengingat ketersediaan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang melimpah. Komoditas agribisnis yang paling tepat untuk mengatasinya saat ini adalah komoditas hortikultura. Komoditas ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah yang nyata bagi perkembangan pertanian Indonesia.

Jenis usaha yang potensial untuk dikembangkan adalah usaha yang bergerak di bidang pengolahan bahan pangan. Produk bahan pangan yang dihasilkan dapat menambah keanekaragaman produk dan memberi nilai tambah bagi bahan pangan tersebut. Salah satunya adalah buah-buahan yang merupakan sumber kekayaan alam yang melimpah di Indonesia.

Produk yang akan dikembangkan adalah produk manisan yang bahan bakunya berasal dari buah-buahan. Di Indonesia sangatlah mudah menemukan buah-buahan dan sayur-sayuran setiap harinya yang sebenarnya memberikan kesempatan yang besar dalam pemanfaatannya sebagai peluang usaha.

Namun, potensi yang besar ini jika tidak dibarengi dengan pemanfaatan teknologi pengolahan yang tepat akan sia-sia. Kenyataan ini menjadi semakin parah jika musim buah tiba. Harga buah menjadi sangat murah bahkan banyak yang terbuang.

Pengolahan buah dan sayuran menjadi manisan kering bertujuan untuk memperpanjang umur simpan produk buah tanpa harus menggunakan bahan pengawet, karena pengawet yang digunakan adalah pengawet alami berupa gula. Peluang bisnis manisan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, dan membidik pasar produk buah. Selain itu, tidak kalah pentingnya produk tersebut juga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan makanan ringan yang penuh serat dan menyehatkan.

Oleh karena itu, mengolah buah-buahan menjadi manisan merupakan salah satu solusi cemerlang yang dapat mendatangkan keuntungan berlimpah. Setelah diolah menjadi manisan buah kering akan menyebabkan nilai jual buah akan semakin tinggi.

Manisan adalah salah satu bentuk makanan olahan yang banyak disukai oleh masyarakat. Rasanya yang manis bercampur dengan rasa khas buah sangat cocok untuk dinikmati diberbagai kesempatan. Meskipun jenis manisan buah yang umum dipasarkan ada bermacam-macam bentuk dan rasanya, namun sebenarnya dapat dikelompokkan menjadi 4 golongan yaitu:

  1. Golongan pertama adalah manisan basah dengan larutan gula encer (buah dilarutkan dalam gula jambu, mangga, salak dan kedondong).
  2. Golongan kedua adalah manisan larutan gula kental menempel pada buah. Manisan jenis ini adalah pala, lobi-lobi dan ceremai.
  3. Golongan ketiga adalah manisan kering dengan gula utuh (sebagai gula tidak larut dan menempel pada buah). Buah yang sering digunakan adalah buah mangga, kedondong, sirsak dan pala.
  4. Golongan keempat adalah manisan kering asin karena unsur dominan dalam bahan adalah garam. Jenis buah yang dibuat adalah jambu biji, buah, mangga, belimbing dan buah pala.

Manisan kering adalah produk olahan yang berasal dari buah-buahan dimana pemasakannya dengan menggunakan gula kemudian di keringkan. Produk ini mempunyai beberapa keuntungan diantaranya; bentuknya lebih menarik, lebih awet volume serta bobotnya menjadi lebih kecil sehingga mempermudah pengangkutan. buah-buahan yang biasa digunakan untuk membuat manisan kering adalah jenis buah yang lunak seperti buah pepaya, sirsak, tomat, dan lain-lainnya.

Secara umum pembuatan manisan terdiri dari tahap pemotongan/penusuk-nusukan buah, perendaman, pencucian, perebusan, pemasakan dengan gula dan penjemuran. Berikut ini adalah proses pengolahan manisan kering pada buah tomat:

Bahan :

  • Tomat / Pepaya 1 kg
  • Gula 3 ons
  • Kapur

Alat :

  • Wajan
  • Kompor
  • Panci
  • garpu.
  • Tampah (untuk penjemuran)

Cara membuat :

  • Tomat ( dapat diganti pepaya yang telah dikupas / dipotong-potong) dicuci lalu ditusuk-tusuk dengan garpu
  • Direndam dalam air kapur selama 1 malam
  • Ditiriskan dan dicuci bersih
  • Direbus dalam air mendidih selama 10 menit
  • Ditiriskan dan didinginkan
  • Dimasukkan dalam wajan, ditambahkan gula dan ½ gelas air
  • Dimasak sampai hampir kering
  • Ditiriskan, dijemur
  • Pengemasan

Sumber gambar: http://wb8.itrademarket.com/pdimage/50/820350_dehydrated-fruit.jpg

Oct 19 2009 Manisan Mangga

Manisan Mangga

Published by mlandhing at 1:05 pm under Manisan

Hari libur, memang paling enak iseng, termasuk iseng di dapur. Kemarin sebelum hujan, tetangga metik mangga mengkal. Sebagian diberikan ke mlandhing. Lumayan, ada kalau cuma 7 buah. Sebagian, 2 buah dibikin rujak. Sisanya yang 5 buah, pagi ini kubuat jadi manisan mangga. Manisan mangga yang ini versi basah ya, berkuah gitu deh. Segeerrr banget! Apalagi makannya pakai es batu. Hmm…. *ngiler*

BAHAN:
2 kg mangga
2 lt air
2 sdt garam
1/2 sdt kapur sirih

SIRUP RENDAMAN:
500 gr gula pasir
500 ml air

CARA MEMBUAT:

  • Kupas mangga, serut.potong sesuai selera.
  • Siapkan air kapur sirih. Campur kapur sirih dengan 1-2 lt air. Biarkan mengendap, pakai airnya yang bening untuk merendam mangga sekitar 1 jam. Cuci. Tiriskan.
  • Rendam kembali mangga dengan air garam. Campur garam dengan 1 lt air, rendam mangga sekitar 1 jam lagi. Tiriskan.
  • Rebus 500 ml air dengan 500 gr gula pasir hingga mendidih dan gula larut. Matikan api.
  • Selagi panas, masukkan irisan mangga. Biarkan terendam hingga dingin. Masukkan ke kulkas. Sajikan dingin atau tambahkan sedikit es batu.
  • TIPS & TRIK:

  • Kalau mau rasa pedas, tambahkan 5-10 cabai rawit. BUang isinya terlebih dahulu, dan ikut rebus bersama sirup rendaman. Kalau sudah matang, haluskan cabai rawit dan kembali masukkan dalam rendaman. Baru masukkan mangganya.
  • Buah mangga bisa diganti dengan kedondong ataupun nanas. Sesusai selera lah.
  • Senin, 07 Maret 2011

    Tanaman yang Dapat Menyerap Polutan

    Tanaman yang Dapat Menyerap Polutan

    oleh: Astri Diana

    Tanaman yang Dapat Menyerap  Polutan

    Jika anda gemar mengoleksi tanaman, pasti sudah tak asing lagi dengan bunga krisan dan tanaman lidah buaya (Sansevieria). Sudah cantik, sehat pula!

    Memiliki hunian yang sehat tidak hanya tercipta dari luas lahan lansekap atau banyaknya bukaan menghadap ke luar. Tanaman juga bisa lho. Selain berguna untuk percantikan taman, beberapa tanaman bahkan menyehatkan. Bunga krisan dan lidah mertua (Sansevieria ) misalnya.

    Berdasarkan penelitian di sebuah univeritas di Sydney, Australia, bunga krisan mampu mengurangi 90% polutan di dalam ruangan. Begitupula dengan tanaman lidah mertua, tanaman yang banyak mengandung air ini efektif menyerap formaldehyde, salah satu racun yang dihasilkan oleh asap rokok.

    Perawatan kedua tanaman ini tidak sulit kok. Cukup menyiramnya secara rutin untuk menghindarkan tanaman dari kekeringan. Tapi lain halnya dengan bunga krisan, bunga yang tampil beraneka warna ini justru tidak tahan air. Agar tahan lama, letakkan di dalam ruangan lalu sinari bunga dengan lampu pijar agar ia tumbuh subur.

    Untuk hunian sehat anda, kedua tanaman ini wajib diperlihara. Warna warni bunga krisan juga bisa menambah nilai estetis ruang lho, sedangkan lidah mertua oke juga ditempatkan di pinggiran kolam ikan.

    Foto : iDEA/Richardo De Melo

    Taman dengan Paduan Kucai dan Batu Templek

    Taman dengan Paduan Kucai dan Batu Templek

    oleh: Tigor C. Siahaan

    Taman dengan Paduan Kucai dan Batu Templek

    Solusi untuk area yang sulit ditanami rumput. Tampak asri, perawatan pun gampang.

    kucai

    Lantai taman ini terlihat unik. Lembaran batu templek purwakarta beragam ukuran ditempatkan hampir menutup seluruh lantai taman. Celah antarbatu itu diisi tanaman kucai mini (Carex morrowii ). Kombinasi yang serasi.

    Anda bisa meniru ide kombinasi batu templek dan kucai ini untuk taman rumah Anda. Khususnya jika taman rumah sulit ditanami rumput karena kurang mendapat sinar matahari.

    Berbeda dengan rumput, kucai mini bisa tumbuh baik di area teduh maupun panas. Selain itu, sesuai namanya, kucai mini tidak akan tumbuh besar dan memanjang. Anda tak perlu repot memangkas.

    Untuk membuat lantai taman seperti ini, terlebih dahulu tutup lantai dengan batu templek. Beri jarak sekitar 5cm-10cm antarbatu untuk ruang tanam kucai mini. Di pasaran Anda bisa menemukan batu templek dengan bentuk tidak beraturan maupun yang sudah dipotong kotak menyerupai keramik. Yang tidak beraturan terlihat lebih alami.

    Setelah batu disusun, tanam kucai mini. Usahakan untuk menanamnya dengan rapat hingga tak ada permukaan tanah yang terlihat. Kucai mini tak membutuhkan perawatan khusus, cukup dengan penyiraman teratur sekali sehari.

    Mudah, kan ? Selamat mencoba.

    Foto: iDEA/Ricardo De Melo

    tanaman cabai rawit{diah's Site}

    Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.)

    Sinonim : C. ,fastigiatum BL, C. minimum Roxb.
    Familia : solanaceae.


    Cabai rawit merupakan tanaman budidaya, kadang-kadang ditanam di pekarangan sebagai tanaman sayur atau tumbuh liar di tegalan dan tanah kosong yang terlantar. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik, menyukai daerah kering, dan ditemukan pada ketinggian 0,5-1.250 m dpl.

    Perdu setahun, percabangan banyak, tinggi 50-100 cm. Batangnya berbuku-buku atau bagian atas bersudut. Daun tunggal, bertangkai, letak berselingan. Helaian daun bulat telur, ujung meruncing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 5-9,5 cm, lebar 1,5-5,5 cm, berwarna hijau. Bunga keluar dari ketiak daun, mahkota bentuk bintang, bunga tunggal atau 2-3 bunga letaknya berdekatan, berwarna putih, putih kehijauan, kadang-kadang ungu. Buahnya buah buni, tegak, kadang-kadang merunduk, berbentuk bulat telur, lurus atau bengkok, ujung meruncing, panjang 1-3 cm, lebar 2,5-12 mm, bertangkai panjang, dan rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, putih kehijauan, atau putih, buah yang masa.k berwarna merah terang. Bijinya banyak, bulat pipih, berdiameter 2-2,5 mm, berwarna kuning kotor. Cabal rawit dapat diperbanyak dengan biji.

    Cabai rawit terdiri dari tiga varietas, yaitu :
    1. cengek leutik yang buahnya kecil, berwarna hijau, dan berdiri tegak pada tangkainya;
    2. cengek domba (cengek bodas) yang buahnya lebih besar dari cengek leutik, buah muda berwarna putih, setelah tua menjadi jingga;
    3. ceplik yang buahnya besar, selagi muda berwarna hijau dan setelah tua menjadi merah. Buahnya digunakan sebagai sayuran, bumbu masak, acar, dan asinan. Daun muda dapat dikukus untuk lalap.

    Cabai rawit memang pedas. Namun, pendamping tempe goreng ini memiliki banyak khasit pengobatan. Bukan cuma rematik, radang beku atau frostbite yang sering terjadi di daerah ketinggian atau bersalju itu pun bisa diatasi. Cabai Rawit mengandung antioksidan
    Menurut Dr. Setiawan Dalimartha, anggotan Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) DKI Jakarta, di dalam buah cabai rawit terkandung kapssaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid, atsiri, resin, minyak menguap, serta vitamin A dan C. Kapsaisin memberikan rasa pedas pada cabai, berkhasiat melancarkan aliran darah seta sebagai pemati rasa kulit.

    Biji tanaman bernama daerah lombok jempling (Madura), cabe rawit (Jawa), leudeu jarum (Gayo), rica halus (Manado), metrek wakfoh (Papua) ini, kata Dr. Setiawan, mengandung solanine, solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, dan steoid saponin (kapsisidin). Kandungan terakhir ini berkhasiat sebagai antibiotik. Saat disantap, rasa pedas di lidah dapat menimbulkan rangsangan ke otak untuk mengeluarkan endorfin (opiate endogen). Hasilnya, rasa sakit hilang dan timbul perasaan lebih sehat. Pada sistem reproduksi, sifatnya yang panas dapat mengurangi rasa tegang dan sakit akibat sirkulasi darah yang buruk.

    Salah satu hasil penelitian, kata Dr. Setiawan, cabai rawit diketahui memiliki khasiat mengurangi terjadinya penggumpalan darah (trombosis) dan menurunkan kadar kolesterol. Satu hal lagi, banyaknya kandungan zat antioksidan (seperti vitamin C dan betakaroten), dapat digunakan untuk mengatasi ketidaksuburan (infertilitas), afrodisiak, dan memperlambat proses penuaan. Masalahnya, tidak setiap orang boleh mengonsumsi cabai rawit secar berlebihan. Pengidap sakit tenggorokan, sakit mata, dan penderita gangguan saluran pencernaan, kata Dr. Setiawan, tidak dianjurkan mengonsumsi cabai rawit.

    Penelitian yang dilakukan Tyas Wkowati Prasetyoningsih, Fakultas Farmasi Universitas Arilangga, Jawa Timur, tahun 1987. menyebutkan ekstrak buah cabai rawit mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans, yaitu jamur pada permukaan kulit. Daya hambat ekstrak cabai rawit 1 mg/ml setara dengan 6,20 mcg/ml nistatin dalam formamid.

    Dr. Setiawan menambahkan cabai rawit indikasinya digunakan untuk menambah nafsu makan, menormalkan kembali kaki dan tangan yang lemas, melegakan rasa hidung tersumbat pada sinusitis, mengurango batuk berdahak dan meredakan migrain. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan khasiat cabai rawit. Bisa dengan cara merebusnya atau dibuat bubuk dan pil. Untuk pemakaian luar, cukup dengan merebusnya, lalu uapnya dipakai memanaskan bagian tubuh yang sakit.

    Cara lain, kata Dr. Setiawan, dengan menggiling cabai rawit hingga halus, kemudian membalurkannya di bagian yang sakit. Cara terakhir ini bisa digunakan untuk gangguan rematik dan frostbite (jari nyeri karena kedinginan). Daunnya bisa digiling untuk dibalurkan di daerah yang sakit guna mengatasi sakit perut dan bisul.

    Komposisi :
    Buahnya mengandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid asiri, resin, minyak menguap, vitamin (A dan C). Kapsaisin memberikan rasa pedas pada cabai, berkhasiat untuk melancarkan aliran darah serta pematirasa kulit. Biji mengandung solanine, solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, dan steroid saponin (kapsisidin). Kapsisidin berkhasiat sebagai antibiotik.

    CONTOH PEMAKAIAN DI MASYARAKAT

    Kaki dan tangan lemas (seperti lumpuh)
    Sediakan 2 bonggol akar cabai rawit, 15 pasang kaki ayam yang dipotong sedikit di atas lutut, 60 g kacang tanah, dan 6 butir hung cao. Bersihkan bahan-bahan tersebut dan potong-potong seperlunya. Tambahkan air dan arak sama banyak sampai bahan-bahan tersebut terendam seluruhnya (kira-kira 1 cm di atasnya). Selanjutnya, tim ramuan tersebut. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum, sehari dua kali, masing-masing separo dari ramuan.

    Sakit perut
    Cuci daun muda segar secukupnya, lalu giling sampai halus. Tambahkan sedikit kapur sirih, lalu aduk sampai rata. Balurkan ramuan tersebut pada bagian perut yang sakit.

    Rematik
    Giling 10 buah cabai rawit sampai halus. Tambahkan 1/2 sendok teh kapur sirih dan air perasan sebuah jeruk nipis, lalu aduk sampai rata. Balurkan ramuan tersebut pada bagian tubuh yang sakit.

    Frosbite
    Buang biji beberapa buah cabai rawit segar, lalu giling sampai halus, kemudiam balurkan ke tempat yang sakit.

    Beberapa Keluarga Cabai











    Bell Paper - Mexico Black Pearl Cubanelle Peppers











    jalapenos Hot Peppersin


    Tips Kalau Kepedasan

    Setelah makan cabai maupun sambal, adakalanya rasa pedasnya tak mau segera hilang. Bahkan bibir pun ikut-ikutan terasa panas. Ada beberapa cara jitu untuk mengatasinya.
    1. Ambil sesendok susu bubuk, kunyah hingga terasa manis. Kasein susu akan melarutkan kapsaisin si biang rasa pedas dari mulut, sehingga rasa pedas berangsur berkurang. Bisa juga dengan cara mengunyah sekepal kecil nasi atau sepotong roti tawar hingga terasa manis.
    2. Santap makanan gorengan yang lembap, seperti tempe goreng atau bakwan goreng, perlahan-lahan. Nikmati betul rasa gurihnya, agar minyaknya betul-betul "mencuci" kapsaisin, sehingga rasa pedas sedikit demi sedikit menghilang. Jika tak ada, makanan gorengan seperti kerupuk, rempeyek, dan rengginang pun bisa membantu.
    3. Hindari mengambil minuman ringan bersoda (softdrink) di kala kepedasan, apalagi minuman hangat. Langkah tersebut justru akan makin menambah panas bibir dan memperhebat rasa pedas.

    Tips Lain Mengolah Cabai

    Selama ini kita hanya terbatas menggunakan cabai segar sebagai bumbu. Padahal, cabai kering atau minyak cabai pun sama lezatnya. Bahkan, untuk masakan tertentu justru lebih sedap jika menggunakan cabai kering atau minyak cabai. Nah, untuk menghindari cabai terbuang percuma, karena keburu busuk sebelum digunakan, ikuti cara berikut.


    • Hamparkan cabai, baik cabai rawit maupun cabai merah, di atas nyiru. Jemur hingga kering. Simpan dalam wadah tertutup. Karena rasanya lebih pedas dibanding ketika masih segar, gunakan cabai kering lebih sedikit. Membakar/memanggang dulu cabai kering sebelum digunakan hingga sedikit gosong membuat cita rasa masakan lebih gurih. Cabai kering bisa digunakan utuh atau dipotong-potong. Untuk bumbu halus, kalau perlu seduh dulu cabai kering dengan air mendidih.
    • Bukan hanya masakan Thailand yang cocok dibubuhi minyak cabai. Masakan kita pun oke, seperti sup, mi kuah, sayur sambal godog, sayur sambal goreng santan, sayur asam bumbu kemiri. Membuatnya, panaskan minyak goreng, masukkan cabai rawit iris, masak hingga cabai kering. Angkat, setelah dingin simpan minyak cabai dalam wadah terutup. Cara lain, masukkan irisan cabai rawit kering ke dalam minyak zaitun atau minyak wijen, tutup rapat, kocok. Simpan 2 bulan, baru bisa digunakan.
    Kuliner

    Fettucini Cabai Rawit

    Bahan:
    100 g fettucini
    50 g mentega
    2 siung bawang putih, memarkan,
    cincang halus
    50 ml krim kental
    75 g keju cheddar parut
    1/2 sdt garam
    5 buah cabai rawit, iris halus
    1 sdt kemangi cincang
    25 g anchovy kalengan, tiriskan *)
    2 lembar beef bacon, iris melintang

    CARA MEMBUAT:
    Didihkan air dalam panci, masukkan fettucini, masak hingga aldente, tiriskan. Panaskan mentega, tumis bawang putih hingga harum dan matang, masukkn krim dan garam, aduk rata. Didihkan. Masukkan anchovy, cabai rawit, beef bacon, aduk rata. Tambahkan keju dan fettucini, aduk rata. Masak hingga matang. Angkat. Sajikan dengan kemangi cincang.

    *) Anchovy
    akan memberikan rasa gurih dan sedikit asin pada hidangan. Jika tidak suka, dapat diganti dengan ikan teri goreng sebagai taburan.

    Sambal Rawit I

    Bahan :
    15 buah cabai rawit
    5 butir bawang merah
    2 siung bawang putih
    4 butir kemiri sangrai
    ½ sdt garam

    Cara Membuat :
    1. Rebus cabai rawit, bawang merah dan bawang putih sampai layu.
    2. Haluskan semua bahan yang direbus bersama kemiri sangrai lalu tambahkan garam.

    Sambal Rawit II

    Bahan :
    50 gr cabai rawit merah, rebus sebentar, angkat
    ¼ sdt garam
    ¼ sdt gula pasir
    1 sdt air jeruk nipis
    50 ml air

    Cara Membuat :
    1. Rebus cabai rawit, bawang merah dan bawang putih sampai layu.
    2. Haluskan semua bahan yang direbus bersama kemiri sangrai lalu tambahkan garam.


    SAMBAL KUKUS

    Bahan :
    150 gr lombok besar 20 gr terasi
    100 gr cabai rawit 1/2 sendok teh garam
    35 gr bawang merah 1/2 cangkir minyak kelapa
    20 gr bawang putih Air perasan jeruk limau

    Cara Membuat :
    Kupas, bersihkan, dan kukus semua bahan berikut : lombok besar dan lombok kecil, bawang merah, bawang putih, dan terasi. Setelah setengah matang, haluskan dan tambahkan garam, minyak kelapa dan air perasan jeruk limau, aduk hingga rata


    SAMBAL SERE TABIA

    Bahan :
    250 gr cabai rawit
    10 gr terasi, disangrai garam

    Cara Membuat :
    Iris halus cabai rawit, campur dengan terasi dan garam, dan goreng selama beberapa menit.


    SAMBAL PELALAH

    Bahan :
    250 gr bawang putih Garam
    125 gr lombok besar 15 gr terasi
    15 gr kemiri Minyak kelapa
    10 gr jahe

    Cara Membuat :
    Kupas dan iris memanjang bawang putih dan lombok besar. Rajang halus jahe dan terasi. Campur bahan-bahan tersebut di atas, kemudian goreng selama beberapa menit dan aduk hingga merata.


    SAMBAL KECICANG

    Bahan :
    75 gr bawang merah 100 gr kecicang
    50 gr lombok besar 1/2 cangkir minyak kelapa
    50 gr cabai rawit 1/2 sendok teh garam
    15 gr terasi Air perasan dari sebuah jeruk limau

    Cara Membuat :
    Iris halus bawang merah, tambahkan garam, remas- remas beberapa saat, kemudian cuci bersih dengan air. Iris halus lombok besar dan cabai rawit. Kecicang diiris-iris halus, dan remas-remas dengan garam sampai lunak, setelah itu dicuci sampai bersih. Panggang terasi. Campur semua bahan-bahan tadi dengan minyak, air perasan jeruk limau, dan uleni hingga tercampur dengan rata


    SAMBAL PELECING

    Bahan :
    250 gr lombok besar 15 gr terasi
    50 gr cabai rawit 1/2 cangkir minyak kelapa
    20 gr bawang putih 1/2 sendok teh garam
    25 gr tomat Air perasan jeruk limau

    Cara Membuat :
    Lombok besar, cabai rawit, dan tomat dapat direbus atau dikukus. Setelah itu, haluskan. Panggang terasi, tambahkan garam dan sedikit gula pasir, ulek hingga halus. Goreng semua bahan-bahan tadi dalam minyak panas, biarkan mendidih beberapa saat hingga matang. Tuangkan ke dalam mangkuk, dan tambahkan air perasan jeruk limau ke dalamnya.


    SAMBAL RAJANG

    Bahan :
    500 gr bawang merah 20 gr kencur
    15 gr bawang putih 35 gr laos
    10 gr lombok besar 1/2 gr terasi (dipanggang)
    5 gr cabai rawit 1 lembar daun salam
    60 gr jahe Garam

    Cara Membuat :
    Iris halus bawang merah, bawang putih, cabai rawit dan lombok besar. Rajang halus kencur, jahe, dan laos. Campur semua bahan dengan terasi dan garam. Goreng dalam minyak panas selama beberapa menit.


    SAMBAL BAWANG

    Bahan :
    500 gr bawang merah 20 gr daun jeruk
    80 gr bawang putih 10 gr terasi disangrai
    10 gr lombok besar Garam
    5 gr cabai rawit Air perasan dari setengah jeruk limau
    30 gr serai Minyak kelapa

    Cara Membuat :
    Rajang semua bahan di atas sampai halus, aduk rata, dan tambahkan air perasan jeruk limau.


    Source :
    http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=213
    http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=995&tbl=alternatif
    http://palabs.or.id/web/content/view/22/1/
    http://www.femina-online.com/kuliner/kuliner_detail.asp?id=89&cid=2&views=369
    http://resep.dekap.com/sambal.php

    Cara menanam cabe dr pembibitan sampai cara panen yg baik

    TEKNIK BUDIDAYA

    CABAI HIBRIDA SISTEM MULSA PLASTIK

    Dewasa ini bertani cabai hibrida sistem mulsa plastik hitam perak (MPHP) banyak dipraktekkan pada cabai Hot Beauty, Hero, Long Chili, Ever-Flavor dan cabai Paprika. Dimungkinkan pula pada usahatani cabai keriting hibrida maupun cabai kecil (rawit, cengek) hibrida. Alasan utama sistem MPHP digunakan pada cabai-cabai hibrida adalah untuk mengimbangi biaya pengadaan MPHP dari peningkatan hasil cabai yang lebih tinggi daripada cabai biasa, sehingga secara ekonomis menguntungkan. Budidaya cabai hibrida dengan sistem MPHP merupakan perbaikan kultur teknik ke arah yang intensif. Pada umumnya sistem budidaya cabai di sentra-sentra produksi cabai masih menggunakan benih lokal dan populasi tanaman per hektarnya tinggi. Populasi yang sangat rapat ini dapat mengakibatkan penangkapan sinar matahari setiap tanaman berkurang dan kelembaban udara di sekitar kebun menjadi tinggi. Kelembaban yang tinggi seringkali dapat meningkatkan serangan hama dan penyakit. Perbaikan kultur teknik budidaya cabai secara intensif untuk meningkatkan produksi maupun kualitas hasil, diantaranya adalah penggunaan benih unggul dari varietas hibrida yang bermutu tinggi, penerapan MPHP, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, serta cara-cara lain yang khas seperti pemasangan turus dan perempelan tunas ataupun daun. Kegiatan pokok teknik budidaya cabai hibrida sistem MPHP meliputi :

    Penyiapan Lahan

    Dalam budidaya cabai hibrida sistem MPHP, penyiapan lahan harus didahulukan, kemudian disusul dengan penyiapan benih atau pembibitan. Maksudnya agar tanah sebagai media tanam benar-benar telah matang dan layak ditanami. Sebaliknya, bila pembibitan didahulukan, maka penyiapan lahan akan terburu-buru, sehingga tanahnya belum matang benar dan bibit sudat terlanjur tua. Bibit cabai hibrida umumnya siap dipindahtanamkan dari persemaian ke lapangan (kebun) pada umur 17 - 23 hari (berdaun 2 - 4 helai). Bila bibit terlambat dipindahtanamkan (terlanjur tua), pertumbuhan kurang optimal dan produksinya menurun (rendah).

    Persyaratan lahan untuk kebun cabai hibrida sistem MPHP adalah :

    Tempatnya terbuka agar mendapat sinar matahari secara penuh.


    Lahan bukan bekas pertanaman yang sefamili, seperti kentang, tomat, terung taupun tembakau ; guna menghindari risiko serangan penyakit.

    Lahan yang paling baik adalah berupa tanah sawah bekas tanaman padi, agar tidak perlu membajak cukup berat.


    Lahan tegalan (tanah kering) dapat digunakan, asal cukup tersedia air.




    IKLIM DAN TANAH


    Syarat Iklim

    Pada umumnya cabai dapat ditanam di dataran rendah sampai pegunungan (dataran tinggi) + 2.000 meter dpl yang membutuhkan iklim tidak terlalu dingin dan tidak terlalu lembab. Temperatur yang baik untuk tanaman cabai adalah 240 - 270 C, dan untuk pembentukan buah pada kisaran 160 - 230 C. Setiap varietas cabai hibrida mempunyai daya penyesuaian tersendiri terhadap lingkungan tumbuh. Cabai hibrida Hot Beauty dan Hero dapat berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi + 1200 m dpl. Sedangkan cabai hibrida Long Chili lebih cocok ditanam pada ketinggian antara 800 - 1500 m dpl. Khusus untuk cabai Paprika umumnya hanya cocok ditanam di dataran tinggi. Kisaran temperatur optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman paprika antara 210 - 250 C, sedangkan untuk pembentuk-an buah memerlukan temperatur 18,30. Cabai paprika tidak tahan terhadap intensitas cahaya matahari yang tinggi karena dapat menyebabkan buah seperti terbakar (sunburn) dan juga hasil akhir bobot buah akan sangat rendah. Pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, tanaman paprika akan mengalami gugur tunas, gugur bunga dan buah muda, serta ukuran buah sangat kecil. Meskipun cabai paprika umumnya cocok ditanam di dataran tinggi, tetapi dapat pula dikembangkan di dataran menengah mulai ketinggian 600 m dpl; yakni dengan cara memanipulasi lingkungan. Alih teknologi budidaya paprika di dataran menengah antara lain menggunakan sungkup beratapkan plastik bening (transparan).





    Syarat Tanah

    Hampir semua jenis tanah yang cocok untuk budidaya tanaman pertanian, cocok pula bagi tanaman cabai. Untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi, cabai menghendaki tanah yang subur, gembur, kaya akan organik, tidak mudah becek (menggenang), bebas cacing (nematoda) dan penyakit tular tanah. Kisaran pH tanah yang ideal adalah antara 5.5 - 6.8, karena pada pH di bawah 5.5 atau di atas 6.8 hanya akan menghasilkan produksi yang sedikit (rendah). Pada tanah-tanah yang becek seringkali menyebabkan gugur daun dan juga tanaman cabai mudah terserang penyakit layu. Khusus untuk tanah yang pH-nya di bawah 5.5 (asam) dapat diperbaiki keadaan kimianya dengan cara pengapuran, sehingga pH-nya naik mendekati pH normal.

    Beberapa angka pH tanah (reaksi tanah), terdiri atas :

    Paling masam (< 4.0)


    Sangat asam (4.0 - 4.5)

    Asam (4.5 - 5.5)


    Agak asam (5.5 - 6.5)

    Netral (6.5 - 7.5)

    materi referensi:

    Pemanfaatan Ampas Singkong Menjadi Makanan Bernilai Gizi

    Singkong

    Singkong

    Singkong atau tapioka merupakan bahan pangan yang banyak diproduksi di Indonesia. Indonesia termasuk sebagai negara penghasil ubi kayu terbesar ketiga (13.300.000 ton) setelah Brazil (25.554.000 ton), Thailand (13.500.000 ton) serta disusul negara-negara seperti Nigeria (11.000.000 ton), India (6.500.000 ton) dari total produksi dunia sebesar 122.134.000 ton per tahun.

    Singkong merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi manusia.

    Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionin. Dari proses pengolahan singkong menjadi tepung tapioka, dihasilkan limbah sekitar 2/3 bagian atau sekitar 75% dari bahan mentahnya.

    Selama ini orang hanya memanfaatkan daging singkong sebagai bahan pangan, namun limbahnya tidak diolah kembali. Bagi kebanyakan orang limbah tapioka hanyalah sampah dan polutan yang mencemari lingkungan. Limbah tapioka oleh para petani hanya digunakan sebagai pakan ternak atau dibuang begitu saja ke sungai atau parit-parit. Hal tersebut dapat membahayakan lingkungan karena dapat merubah kandungan oksigen di air menjadi berkurang.

    Dengan inovasi teknologi yang diterapkan, limbah tapioka ini dapat diolah lebih lanjut dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan produk nata yang berbahan dasar ampas singkong. Dimana Indonesia merupakan penghasil singkong terbesar ketiga di dunia (13.300.000 ton/tahun). Sehingga untuk ketersediaan bahan baku, nata dari ampas singkong ini tidak akan menjadi masalah. Seperti nata de coco, yang selama ini telah beredar di pasaran dan banyak digemari masyarakat, diharapkan produk nata dari ampas singkong ini dapat menjadi sumber alternative bahan pangan untuk masyarakat dengan penciptaan nilai tambah pada limbah tapioca yang sangat berlimpah daripada hanya dibuang begitu saja ke lingkungan atau hanya digunakan sebagai pakan ternak saja.

    Nata merupakan produk fermentasi dari bakteri Acetobacter xylinum yang berupa lembaran selulosa dari pengubahan gula yang terdapat pada substrat (umumnya air kelapa tetapi dapat pula dari bahan lain) menjadi pelikel selulosa. Nata ini kandungan utamanya adalah air dan serat sehingga baik untuk diet dan sering digunakan dalam pembuatan dessert atau sebagai tambahan substansi pada koktail, es krim dan sebagainya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan nata di antaranya adalah bakteri, gula dan nitrogen, selain itu harus pula diperhatikan suhu dan pH serta jangan tergoyanng agar pembentukan pelikel berlangsung baik.

    Bakteri Acetobacter xylinum adalah bekteri Gram negatif yang dapat mensintesis selulosa dari fruktosa. Selulosa ini memiliki pori melintang pada kristal mini glukan yang kemudian terkoalisi ke dalam mikrofibril. Cluster mikrofibril yang ada dalam struktur senyawa yang terbentuk seperti pita-pita dapat diamati secara langsung dengan menggunakan mikroskop. Acetobacter xylinum merupakan suatu model sistem untuk mempelajari enzim dan gen yang terlibat dalam biosintesis selulosa. Jumlah inokulum yang diberikan 10 – 20 % dari bakteri umur 6 hari

    Pembuatan nata dari ampas singkong ini memerlukan serangkaian proses. Proses pertama adalah pemarutan singkong, singkong yang telah dikupas dan dicuci bersih kemudian diparut. Hasil parutan singkong ini kemudian dilarutkan ke dalam air untuk mendapatkan pati singkong. Dari hasil perasan singkong kemudian didapatkan pati singkong. Ampas singkong kemudian diambil dan difermentasi. Hasil fermentasi ampas singkong atau tapioca ini kemudian ditutup untuk meminimalkan kontak dengan udara dan didiamkan selama sepuluh hari. Produk nata ini siap untuk dikonsumsi.

    Setiap satu kilogram ampas singkong, setelah diproduksi menjadi lima kilogram lembaran nata. Selain bernilai ekonomis, produk nata dari singkong baik untuk kesehatan. Produk nata yang dihasilkan berserat tinggi, sehingga dapat membantu melancarkan pencernaan. Namun, pembuatan nata ini membutuhkan waktu yang lebih lama untuk hidrolisis karbohidrat menjadi gula melalui proses fermentasi. Produk nata dari singkong ini mengandung gula 5-7 % sehingga tidak diperlukan penambahan gula kembali. Selama ini pembuatan nata de coco masih membutuhkan penambahan gula, sehingga untuk skala produksi nata dari ampas singkong ini lebih ekonomis dan efisien. Selain itu nata yang dihasilkan lebih kenyal, tebal dan lebih putih.

    Upaya pengolahan ampas singkong menjadi suatu makanan bernilai gizi ini dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan oleh limbah atau proses samping dari singkong yang selama ini hanya dimanfaatkan oleh petani sebagai pakan ternak atau dibuang begitu saja ke sungai atau parit. Selain itu upaya pengelolaan ampas singkong ini dapat menghasilkan produk makanan yang benilai gizi bagi masyarakat