Sabtu, 22 Oktober 2011

Sambal Tappa



BAHAN:
1 ekor (500 g) ikan tongkol segar
2 1/2 sdt garam
1 buah jeruk nipis, ambil airnya
5 buah mangga muda
100 ml santan kental dari 1/4 butir kelapa parut, didihkan
3 buah bawang merah
1 sdt merica butiran
11/2 sdt garam

CARA MEMBUAT:
  • Lumuri ikan dengan 2 sdt garam dan air jeruk nipis hingga rata. Diamkan selama 30 menit.
  • Bakar di atas bara api hingga matang. Suwir-suwir dagingnya. Sisihkan.
  • Serut kasar mangga. Remas-remas dengan sisa garam, peras. Cuci bersih.
  • Campur ikan suwir, daging mangga, santan, dan bumbu halus. Aduk rata.Sajikan.
Untuk 6 porsi
Kalori per porsi: 134 kal


sumber : http://www.femina.co.id/archive/main/kuliner/kuliner_detail.asp?id=126&cid=2&views=221

Suun Bumbu Thai



BAHAN:
2 sdm minyak untuk menumis
250 g daging sapi giling tanpa lemak
300 g udang ukuran sedang, buang kulit dan kepalanya, sisakan ekornya
100 g jamur kuping kering, rendam air panas hingga lunak, iris kasar
1.500 ml kaldu sapi
3 sdm kecap ikan
2 batang daun bawang, iris serong halus
150 g suun kering, rendam air panas hingga lunak

Bumbu halus:

1 sdm akar daun ketumbar
5 siung bawang putih
1/4 sdt merica bubuk

CARA MEMBUAT:
  • Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum. Masukkan daging dan udang, aduk hingga berubah warna.
  • Masukkan jamur, aduk rata. Tuangi kaldu, didihkan. Masukkan kecap ikan dan daun bawang. Masak hingga semua bahan matang, angkat.
  • Dalam mangkuk saji letakkan suun, siram dengan kuah. Sajikan hangat.
[Dari femina 34 / 2006]

sumber : http://www.femina.co.id/archive/main/kuliner/kuliner_detail.asp?id=135&cid=2&views=1721

Suun Bumbu Thai - Kuliner - Femina-online.com

Suun Bumbu Thai - Kuliner - Femina-online.com

Rabu, 12 Oktober 2011

10 “Limbah” Diri

Oleh bidadari_Azzam

Segala puji bagi Allah ta’ala, Rabb seru sekalian alam. Shalawat serta salam tercurah kepada baginda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, para sahabat serta pengikut beliau hingga akhir zaman.

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi, lebih populer berupa limbah padat, disebut sampah. Selain mengingatkan tentang memahat rasa malu dalam jiwa serta senantiasa cinta kepada Allah ta’ala sebagai ‘tameng’ untuk menjaga diri agar terhindar dari maksiat, Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah menasehati murid-muridnya untuk menghindari “Limbah diri”.

Berdasarkan pelajaran dari Ibnu Qayyim al-Jawziyyah itu, ada sepuluh hal yang terbuang alias menjadi limbah dari sosok-sosok hamba-Nya yang lemah, sebagaimana diri pribadi kita, yaitu:

1. Pengetahuan, Terbuang percuma ketika hanya sebatas ‘tahu’, tidak memperdalam agar menjadi lebih paham, tidak pula bertindak, tidak mengamalkan pengetahuan tersebut, bahkan tidak peduli pada orang lain yang belum berpengetahuan.

2. Amalan kita, Ternyata bisa ‘terbuang’ jika dilakukan dengan ‘harap-harap pamrih’ alias tidak tulus ikhlas.

3. Harta Kekayaan, memang sudah pasti ‘terbuang’, tak dapat dibawa mati. Namun bila uang, status kedudukan dan memiliki kekuasaan lalu dipergunakan untuk kemuliaan Islam dan ummat, dibelanjakan dengan penuh manfaat, dan beragam ‘tabungan akhirat’, insya Allah akan ‘bebas limbah’, yang didapat adalah perbekalan buat kehidupan akhirat.

4. Hati, hati kita terbuang karena kosong, menjadi limbah ketika jauh dari kasih sayang Allah ta’ala. Seharusnya perasaan kerinduan untuk senantiasa pergi kepada-Nya, berada di jalan-Nya dan perasaan damai serta kepuasan, penuh kesyukuran atas segala peristiwa skenario-Nya. Astaghfirrulloh, hati kita dipenuhi kebimbangan, kerinduan dengan sesuatu atau orang lain.

5. Tubuh ini, jasad terbuang sebelum ‘benar-benar terkubur’ karena kita tidak menggunakannya untuk beribadah, padahal semua aktivitas si tubuh harus diniatkan karena-Nya, sebagai hamba Allah yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya.

6. Cinta, jangan sembarang melukiskan maknanya, cinta emosional kita seringnya salah arah dan menjadi limbah, bukan cinta kepada Allah SWT, tetapi cinta terhadap sesuatu, impian nan berlebihan atau kepada orang lain. Padahal duhai diri, seharusnya cinta kepada-Mu selalu diutamakan, cinta kepada hal lain hanyalah nomor urut sekian dan sekian, sebagai sarana meningkatkan kualitas kecintaan kepada Sang Maha Cinta.

7. Waktu, ia termahal, dan paling sering terbuang, tidak digunakan dengan benar, lalu berteriak, “Oh, bagaimana ini? Adakah kompensasi untuk penggantian waktu itu?
Bagaimana mengulang yang telah berlalu?”. Duhai diri, tiada hal yang bisa mengulangi waktu—detik terus berdetak, mari jalankan amanah, dengan melakukan apa yang benar, memperbaiki diri terus-menerus untuk menebus perbuatan masa lalu, kelamnya hal buruk semoga tak terulang.

8. Akal kita, bisa jadi tiada guna alias terbuang pada hal-hal yang tidak bermanfaat, yang merugikan masyarakat dan individu, mencomot harta rakyat ketika ‘berkolusi dan memperkuat sindikat’, bukan mengasah kecerdasan agar membawa manfaat untuk izzah ummat, bukan menjadikannya sebagai sumber renungan dan peningkatan kualitas diri.

9. Pelayanan atau service, terbuang percuma ketika kita melayani keluarga, teman-teman, kerabat, dan sesama manusia namun ternyata hal tersebut tidak membawa kita makin dekat dengan Allah, atau hanya manfaat dunia ‘yang diimpikan’, padahal kita adalah ‘pelayan’ Allah, hamba-Nya, yang keseluruhan jiwa raga ini adalah milik-Nya. Seringkali kita lupa, merasa ‘sok hebat’ dengan memerintahkan Allah untuk selalu mengabulkan apa-apa yang kita mau, Allah limpahkan segala anugerah-Nya dari sejak kita berada dalam kandungan bunda, kalau banyak kesulitan ‘mengadu dan bersimpuh’ untuk minta dimudahkan-Nya, sedangkan kalau sedang gembira, bersuka cita dalam gelimang tawa tanpa mengingat-Nya, dan kita makin besar kepala, Astaghfirrullohal’adzim…

10. Dzikir, yang kita ‘dzikir’-kan itu terbuang kalau bukan dzikrulloh, karena tidak mempengaruhi kita, tak ada efek buat jiwa kita. Padahal seharusnya tatkala melihat kebesaran-Nya, memandang semua sudut alam-Nya, merasakan angin sejuk dan mentari nan hangat, dan mempergunakan indera lainnya, saat itu selalu ada dzikrulloh, dzikir kepada Sang Maha Kuasa tentu menentramkan jiwa, membuahkan kedamaian.
"Allah mempersiapkan pengampunan dosa dan ganjaran yang mulia bagi kaum muslimin dan muslimat yang berdzikir." (QS. Al-Ahzab [33] : 35)

Ampuni kami Ya Allah, kami tentunya tak ingin membawa limbah saat hari perhitungan kelak, bimbinglah diri ini Duhai Ilahi, hanya kepada-Mu kami memohon ampunan, dan perlindungan sepanjang masa.

Tatkala Allah ta’ala mengingatkan kita pada ayat-Nya,

(Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji." (QS. Ali-‘Imran [3] : 8-9)

Semoga kita dapat membenahi diri agar bekal buat akhirat senantiasa bersih dari limbah diri, saya ungkapkan pada diri sendiri, “tetaplah optimis sesulit apapun tugas yang dijalani, karena upah-Nya adalah cinta…”, wallahu’alam bisshowab.

(bidadari_Azzam, @ Krakow, akhir syawal 1432 H)


sumber : http://www.eramuslim.com/oase-iman/bidadari-azzam-10-limbah-diri.htm

Sudahkah Kita Memiliki Sifat-Sifat Salaf Berikut Ini…? (Bag. I)

Salafusshalih (orang-orang terdahulu dari kalangan umat Islam yang shalih) memiliki segudang akhlak mulia yang “barangkali” sudah sangat jarang ditemui di masa sekarang ini. Maka, dalam risalah ini, saya coba susun beberapa akhlak mulia mereka agar bisa menjadi perenungan bagi kita semua. Sudahkah kita memiliki akhlak mereka?

I. Salaf tidak Mencari-Cari Keburukan Muslim yang lain…

Seorang salaf, yang bernama Sahal ibn ‘Abdillah berkata, “Jangan suka mencari-cari kekurangan orang lain dankeburukan akhlaknya. Akan tetapi, cari dan telitilah bagaimana kondisi Anda di dalam akhlak Islam, sehingga Anda selamat dan bisa menghormati kedudukannya di dalam diri Anda dan di sisi Anda” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, IV/279 ].

II. Salaf Senantiasa Berwajah Ceria terhadap Orang Lain

Urwah bin Zubair, murid shahabat Nabi, berkata, “Tertulis di dalam hikmah, “Ucapkanlah kata-kata yang baik dan tampilkanlah wajah yang cerah. Niscaya Anda lebih dicintai orang daripada mereka yang memberikan banyak hadiah.” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, II/178 ]

II. Salaf, Marah Besar Bila Melihat Islam Dilecehkan

Abu Salamah ibn Abdurrahman ibn Auf berkata, “Di antara shahabat-shahabat Nabi صلى الله عليه و سلم, ada seseorang yang apabila melihat AGAMANYA HENDAK DILECEHKAN, bola matanya langsung terlihat berputar-putar di wajahnya seperti orang gila (karena sangat marangnya-ed)” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, IX/194 ]

III. Salaf Gembira Apabla Kebenaran Justru Muncul dari Lawan Debatnya

Hatim Al-Aslam berkata, “Aku mempunyai tiga pekerti yang membuatku bisa mengalahkan lawan bicaraku.” Apa itu?, tanya mereka. Ia menjawab, (1) Aku gembira jika lawan bicaraku benar. (2) Aku sedih jika ia salah. (3) Dan aku selalu menjaga diriku agar tidak membodohinya.”
Notes: Ketika hal ini didengar Imam Ahmad ibn Hambal, ia berkata, Subhanallah, betapa cedasnya ia.” [ lihat: حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, VII/82 ]

IV. Salaf Adalah Manusia yang Paling Sayang Kepada Ahli Maksiat, dengan Tidak Membiarkannya Terus dalam Kemaksiatannya.

Salaf bernama Mughirah berkata, “Ada seorang pria baik, tetapi kemudian melakukan perbuatan dosa. Hal ini kemudian diketahui Ibrahim An-Nakha’i, salah seorang ulama besar salafi. Lalu, Ibrahim berkata, “BANTULAH DIA, DAN NASIHATILAH DIA! JANGAN MENINGGALKANNYA”
[ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, IV/233 ]

V. Salaf memberi Nasehat bahwa JURUS TERAKHIR SETAN ADALAH WANITA

Tabi’in senior Sa’id bin Musayyib berkata, “Setiap kali setan merasa frustasi terhadap sesuatu (menggoda manusia-ed), IA PASTI MENDATANGI KORBANNYA MELALUI WANITA.
[ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, II/166 ]

VI. Salaf Mendoakan Kebaikan terhadap ORANG YANG MENDZALIMINYA

Al-’Alaa bin Musayyib berkata, “Ar-Rabi’ bin Khutsaim pernah Menjadi korban pencurian kuda, lalu warga pengajiannya berkata, “KUTUKLAH DIA” Ia menjawab, “JUSTRU AKU BERDOA UNTUKNYA: “YA الله JIKA DIA KAYA, TERIMALAH DENGAN HATINYA. JIKA DIA FAKIR, BERILAH DIA KECUKUPAN.”

VII. Salaf Membenci Popularitas dan Tidak Suka Terkenal di Mata Manusia

Bisyr ibn Harits berkata, “Aku tidak mengetahui orang yang ingin terkenal, melainkan agamanya hilang DAN AIBNYA TERBONGKAR, ia juga berkata, “Tiadk akan menemukan manisnya akhirat bagi orang yang INGIN DIKENAL ORANG BANYAK.
[ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, VIII/343 ]

——–bersambung——–
-
[ Lihat pula artikel ini (dan artikel-artikel yang lain) di http://www.facebook.com/pages/-Forum-Diskusi-Belajar-Bahasa-Arab-dan-Diniyyah-/92408561315 ]

Al-’Ashri, 23/07/1430H, pukul 21:44
Saudaramu, Abu Muhammad Al-’Ashri
عفا الله عنه (Mudah-mudahan الله memaafkannya)

http://alashree.wordpress.com/2009/08/02/jika-kita-mengaku-salafi-sudahkah-kita-memiliki-sifat-sifat-salaf-berikut-ini-bag-i/

http://thalibatun.blogspot.com/2010/01/jika-kita-mengaku-salafi-sudahkah-kita.html
sumber :
http://www.facebook.com/topic.php?uid=141465432572118&topic=163
Majalah Qiblati - Menyatukan Hati Dalam Sunnah Nabi



CIRI SALAFI: Tidak Menanggapi Pertanyaan yang Berbau Adu Domba…!

Abu Muhammad Al-’Ashri

[catatan facebook di-post pada 29 Juni 2009, 00:53)

Penulis teringat beberapa waktu yang lampau, ketika penulis bersama ikhwah yang lain mengikuti kajian salafi di salah satu ma’had. Ketika kajian berlangsung, ada salah satu hadirin yang “tidak kuat” mendengarkan kajian, terkantuk-kantuk bahkan terlihat tertidur di saat ikhwan-ikhwan yang lain menyimak apa yang dituturkan ustadz.

Setelah kajian selesai, tiba-tiba ikhwan yang “tidur” tadi terbangun. Serta merta, ia menjadi ORANG PERTAMA yang bertanya kepada Ustadz dengan pertanyaan yang tidak berkaitan dengan materi kajian, tetapi malah bertanya, “Ustadz, bagaimana tentang Ustadz X, bagaimana tentang Ustadz Y”, dengan intonasi yang menimbulkan pendengarnya pasti akan memberi penilaian negatif terhadap Ustadz yang disebut “si tukang tidur tadi”.

Mendengar pertanyaan bernada adu domba tersebut, sang Ustadz yang ditanya pun kaget dan meminta ikhwan tersebut untuk menanyakan hal yang ditanya kepada Ustadz yang lain. Alhamdulillah.

Akan tetapi shahabatku sekalian. Hal ini tidak jarang kali kita dapati pula di berbagai majelis kajian, di tengah-tengah kita. Dan tidak jarang pula ada sebagian thalabul ilmi atau bahkan ustadz yang terpengaruh model pertanyaan seperti ini. Akhirnya, perpecahan antar ikhwan atau antar ustadz pun terjadi. Padahal, terkadang perpecahan itu terjadi bukan karena keinginan antar ustadz yang akhirnya berseteru itu, tetapi KARENA ADANYA PERTANYAAN TIDAK BERMUTU DARI MURID-MURID YANG TIDAK BERMUTU…!

Bandingkan Kita dengan Salaf (orang-Orang Generasi Awal Islam Muncul)!

Nah, kalau kita mengaku sebagai salafi (pengikut salaf), cermati penggalam kisah salaf berikut ini. Bandingkan, bagaimana mereka menanggapi pertanyaan yang bernada ADU DOMBA.

Salah seorang salaf bernama Ambar berkata,

“Aku pernah duduk bersama Wahab bin Munabbih (ulama salaf yang sezaman dengan khalifah bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz), tiba-tiba ia didatangi seseorang dan berkata, “Sungguh aku telah berpapasan dengan si Fulan, DAN DIA MEMAKI ANDA”.

Wahab Langsung NAIK PITAM dan berkata, “SETAN TIDAK MENEMUKAN UTUSAN SELAIN KAMU”!!!

Sebelum Ambar beranjak dari sisinya (Wahab), ternyata ORANG YANG MEMAKI itu datang dan mengucapkan salam kepada Wahab.

Wahab menjawabnya, mengulurkan tangannya, dan menjabat tangannya, lalu memeberinya tempat duduk di sisinya.”

(Disebutkan Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyatul Auliya’, juz IV, hal. 71)

Faidah:

Nah, camkanlah akhlak salaf di atas. Sebagai seorang muslim, dalam melihat muslim yang lain, kita hanya diperintahkan MENILAI DARI DZAHIRNYA SAJA. Kita tidak diperintahkan untuk mengorek-orek batin seseorang. Hukum asal seorang muslim adalah berbaik sangka pada muslim yang lain. Adapun batin manusia, akan dibongkar di akhirat nanti.

Maka, jika kita melihat DZAHIR seseorang itu baik, katankanlah orang tersebut itu baik, kecuali jika kesalahannya terlihat secara DZAHIR pula, maka katakanlah dia salah.

http://thalibatun.blogspot.com/2010/01/ciri-salafi-tidak-menanggapi-pertanyaan.html

sumber : Majalah Qiblati - Menyatukan Hati Dalam Sunnah Nabi

: Ukhti…, renungkanlah!

Budaya barat hampir telah menyebar di seluruh pelosok bumi ini, orang-orang yang berusaha tetap konsisten terhadap sunnah Nabi-Nya bahkan diolok-olok. Bagai kaum muda, pengaruh budaya barat sangat besar pengaruhnya, diantaranya dalam hal pergaulan muda-mudi, mereka berkilah bahwa hal itu adalah masa perkenalan dengan calon pasangan hidupnya.

Saudariku muslimah, salah seorang darimu pernah berkisah, simaklah mudah-mudahan engkau bisa mengambil faedah.

Mulanya hanyalah perkenalan dan percakapan biasa lewat telepon. Seiring waktu berkembanglah pembicaraan sampai pada kisah cinta dan seluk-beluknya. Dia pun kemudian mengungkapkan cintanya dan berjanji akan meminang saya. Dia meminta agar bisa melihat wajah saya, terang saya menolaknya. Dia mengancam akan memutuskan hubungan. Akupun menyerah. Kukirimkan fotoku serta surat-surat yang begitu manis penuh rayu. Surat menyurat pun berlangsung selalu. Sampai akhirnya dia meminta untuk berjumpa dan jalan berdua dengannya. Aku menolak dengan keras. Tapi dia mengancam akan menyebarluaskan foto-foto saya serta surat-surat saya dan suara saya yang direkamnya ketika kami bercakap-cakap lewat telepon. Akhirnya akupun keluar pergi bersamanya dengan tekad agar bisa pulang segera secepatnya. Ya, akupun pulang akan tetapi dengan mambawa aib dan kehinaan. Ku katakan padanya: Nikahilah aku! Sungguh ini adalah aib bagiku. Maka dia menjawab dengan segenap penghinaan, ejekan dan mentertawakan: Sesungguhnya aku tidak akan menikahi wanita pezina.

Saudariku yang mulia, jika engkau memang memiliki akal untuk berfikir maka dengarkanlah nasehat berikut ini:

Janganlah engkau percaya bahwa pernikahan akan mungkin terlaksana hanya karena perkenalan dan percakapan iseng lewat telepon. Kalaupun memang ini terjadi maka akan mengalami kegagalan, kegalauan dan penyesalan.

Janganlah engkau percayai seorang pemuda ketika dia mulai menampakkan kejujuran dan keikhlasannya dan menyatakan sangat menghargai dan menjunjung tinggi kehormatanmu tapi dia mengkhianati keluargamu dengan meneleponmu dan mengajakmu jalan bersama. Jangan kamu percayai dia ketika dia mulai menyatakan cinta dan berlemah lembut dalam pembicaraannya. Sungguh dia melakukan semua itu dengan tujuan-tujuan busuknya yang tampak jelas bagi orang yang berakal. Akankah dia benar-benar menjunjung tinggi kehormatanmu sementara dia mengajakmu berjumpa dan jalan bersama padahal engkau belum halal baginya?

Janganlah engkau percayai para penyeru emansipasi yang mengharuskan adanya cinta (pacaran) sebelum pernikahan.

Ketahuilah bahwa cinta yang hakiki adalah setelah menikah. Adapun selain itu, umumnya adalah cinta yang penuh kepalsuan. Cinta yang dibangun di atas dusta dan kebohongan, semata-mata untuk bersenang-senang memuaskan hawa nafsu yang tak lama kemudian akan tampaklah kenyataan yang sesungguhnya. Berapa banyak keluarga yang hancur berantakan padahal mereka telah berpacaran sebelum akad pernikahan dan berjanji akan setia berkasih sayang sepanjang jaman? Bahkan berapa banyak pula pasangan yang berantakan sebelum sampai pada pelaminan dibarengi hilangnya kehormatan yang dibanggakan?

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Nabi SAW bersabda: Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang. Keduanya berkata kepadaku, Pergilah! -kemudian beliau menyebutkan haditsnya sampai pada sabdanya SAW -: Kemudian kami mendatangi bangunan seperti tanur yang di dalamnya terdengar suara gaduh memekik. Kamipun melongoknya. Ternyata di dalamnya terdapat pria dan wanita telanjang yang disambar oleh lidah api dari bawah mereka. Ketika lidah api itu mengenai mereka, merekapun memekik kepanasan dan kesakitan. Ketika Nabi SAW menanyakan hal tersebut kepada malaikat, mereka menjawab: Adapun pria dan wanita yang ada di tanur tersebut mereka adalah laki-laki dan wanita pezina.
Maka apakah engkau ingin menjadi bagian dari mereka wahai saudariku muslimah?

Jauhilah bercakap-cakap tanpa keperluan di telepon karena sesungguhnya Allah merekamnya demikian juga syaithan dari jenis manusia pun merekamnya. Mereka para petualang cinta akan menggunakannya sebagai alat untuk mengintimidasi kalian agar kalian mau mendengar mereka dan mentaati mereka. Qiyaskan juga ke dalamnya chating yang tiada guna dan hanya membuang waktu semata.

Hati-hatilah, janganlah engkau foto dirimu kecuali karena suatu hajat dan janganlah terlalu mudah engkau sebarluaskan fotomu dengan segala bentuknya karena hal tersebut merupakan senjata yang paling berbahaya yang digunakan oleh serigala manusia sebagai alat untuk mengancam dan mengintimidasi kalian.

Jauhilah olehmu untuk menulis surat-surat cinta karena hal itu juga merupakan sarana yang digunakan oleh mereka.

Hindarilah majalah-majalah dan kisah-kisah cinta yang rendah, hina penuh aib dan cela. Sungguh di dalamnya terdapat racun yang membinasakan yang tersembunyi di balik indahnya halaman yang warna-warni serta kertas yang halus mengkilap dan wangi.

Jauhilah menonton sinetron-sinetron dan film-film yang hina, yang hanya menonjolkan kemewahan serta gemerlapnya dunia, menyajikan kisah cinta dengan akting yang justru merendahkan martabat wanita. Jauhilah semua itu karena hanya akan merusak akhlak, kehormatan, serta rasa malumu.

Hati-hatilah, janganlah engkau pamerkan auratmu dan janganlah engkau terlalu sering ke luar rumah dan ke pasar-pasar tanpa ada keperluan mendesak yang menuntut untuk itu. Sungguh hal itu hanya akan menjerumuskanmu ke dalam murka Rabbmu.

Janganlah engkau pergi berduaan dengan sopir pribadimu, sungguh ini merupakan khalwat yang terlarang. Janganlah sekali-kali engkau membela diri dengan beralasan bahwa ini darurat. Bertakwalah, karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah, akan dijadikan baginya jalan keluar dari segala permasalahannya.

Hati-hatilah engkau wahai saudariku dari teman yang jelek. Cari dan bergaullah dengan temanmu yang shalihah yang akan membimbingmu kepada keridlaan Rabbmu dan senantiasa mengingatkamu agar tidak terjatuh pada perkara yang akan mendatangkan murka Rabbmu.

Saudariku yang mulia,
Hati-hatilah dari segala kemaksiatan dan dosa karena hal tersebut merupakan sebab hilangnya nikmat, mendatangkan musibah, dan merupakan sebab datangnya kesengsaraan serta adzab yang membinasakan.

Persiapkanlah dirimu untuk menghadapi malaikat maut dengan banyak bertaubat dan beramal shalih, sungguh engkau tidak tahu kapan giliranmu akan tiba.

Saudariku,
Setelah engkau baca nasihat di atas maka ketahuilah bahwa pintu taubat senantiasa terbuka bagi siapa saja yang benar-benar ingin bertaubat. Allah berfirman: Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas akan dirinya (berbuat dosa), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesunggunya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar : 53)

Maka apabila engkau wahai saudariku telah tenggelam dalam suatu kemaksiatan dan dosa, segeralah bertaubat dengan taubatan nashuha sebelum pintu taubat tertutup dan sebelum tubuhmu ditimbun di dalam tanah. Dan pada saat itu tidaklah lagi berguna penyesalan.

Semoga Allah membangunkan kita dari kelalaian yang ada dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, melindungi kita dari adzab qubur dan adzab neraka, serta memasukkan kita ke dalam surga Firdaus Al-A’la.

Shalawat serta salam senantisa tercurah kepada Nabi kita.

(Diterjemahkan dari www.alsalafiyat.com dengan perubahan dan tambahan)

[Kontributor : Umar Munawwir, 02 Juni 2003 ]

SUMBER: Perpustakaan-Islam.Com
sekitar 11 bulan yang lalu


sumber :

Majalah Qiblati - Menyatukan Hati Dalam Sunnah Nabi