Senin, 07 Maret 2011

Kulit Buah Manggis Sebagai Alternatif Bahan Pewarna

Buah bernama Latin Garcinia mangostana L. ini termasuk famili Guttiferae dan merupakan spesies terbaik dari genus Garcinia. Manggis termasuk buah eksotik yang sangat digemari oleh konsumen, baik di dalam maupun luar negeri, karena rasanya yang lezat, bentuk buah yang indah, dan tekstur daging buah yang putih halus. Tidak jarang jika manggis mendapat julukan Queen of tropical fruit (Ratunya Buah-buahan Tropik).
Manggis merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari hutan tropis yang teduh di kawasan Asia Tenggara, antara lain Indonesia. Dari Asia Tenggara, tanaman ini menyebar ke daerah Amerika Tengah dan daerah tropis lainnya seperti Srilanka, Malagasi, Karibia, Hawaii dan Australia Utara. Di Indonesia manggis disebut dengan berbagai macam nama lokal seperti Manggu (Jawa Barat), Manggus (Lampung), Manggusto (Sulawesi Utara), Manggista (Sumatera Barat).

Pada tahun 2005, produksi manggis Indonesia mencapai 62.711 ton dengan luas panen ±10.000 ha, sedangkan produksi manggis Thailand pada tahun 2000 mencapai 162.788 ton dengan luas panen 10.000 ha. Walaupun produktivitas manggis kita lebih rendah dari Thailand, tapi kita masih punya potensi lahan dan pola panen yang beragam di masing-masing daerah. Selain itu kita juga akan terus memacu ekspor manggis kita. Saat ini ekspor manggis kita baru sebanyak 9000 ton atau 14% dari total produksi dengan nilai mencapai hampir USD 5 juta (Menteri Pertanian Republik Indonesia, 2008).

Menurut Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (2004), selama ini petani kebanyakan menjual manggis dalam bentuk segar dengan cara penanganan pasca panen yang masih terbatas, sehingga umur konsumsinya menjadi terbatas. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa Eksportir memiliki teknologi pasca panen buah manggis yang sangat baik, dimana mereka dapat mempertahankan tingkat kesegaran manggis dengan menggunakan formula bahan pengawet buah / tangkai buah dan penggunaan ruang pendingin untuk memperpanjang umur simpan buah. Dengan demikian eksportir memiliki kemampuan untuk menentukan kapan pemenuhan supply & demand pasar dapat dilakukan karena penguasan teknologi pasca panen ini.

Secara ekonomis buah manggis belum dapat kita manfaatkan secara optimal, padahal potensi ekonomisnya sangat tinggi. Bila hal ini terus dibiarkan, buah manggis akan terbuang dengan percuma bahkan akan menjadi limbah dan tidak mempunyai nilai ekonomis sama sekali. Menteri Pertanian Republik Indonesia menyatakan bahwa nilai ekonomis hasil olahan buah manggis ternyata lebih tinggi daripada nilai ekonomis buah segarnya. Hal ini telah terbukti di Amerika serikat, buah manggis tidak hanya dimanfaatkan sebagai konsumsi buah segar, namun dengan mengembangkan teknologi, mereka telah dapat memanfaatkan ekstrak cangkang buah manggis sebagai bahan baku kosmetik dan vitamin.

Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah adanya diversifikasi produk olahan dari komoditas manggis, yang dalam jangka panjang petani mampu meningkatkan nilai tambah dari hasil usahanya dan mengurangi ketergantungan pada bandar karena menjual manggis dalam bentuk segar, yang harganya relatif lebih rendah dari harga pasar.
Untuk itu, kita harus mencoba membuat sebuah inovasi baru dengan mengembangkan produk baru dari buah manggis yang awalnya tidak memiliki nilai ekonomis tinggi menjadi bernilai ekonomis tinggi.

Pengolahan Buah Manggis
Buah manggis dapat diolah dengan cara recycle (daur ulang). Recycle adalah mendaur ulang barang yang sudah tidak dapat dipakai dan diolah menjadi bahan baku atau barang yang bermanfaat. Agar buah manggis tidak menjadi limbah sehingga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, maka buah manggis harus diolah menjadi produk baru yang lebih bermanfaat.

Manggis atau mangosteen (Garcinia mangostana) merupakan tanaman yang hampir seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan, mulai dari daging buah, kulit luar, daun, batang hingga akar. Berdasarkan karakteristik buahnya, manggis dapat diolah menjadi berbagai produk olahan seperti (Roni Kastaman, 2007):

1.Juice atau sari buah. Juice xanthone dari buah manggis dibuktikan berdasarkan riset dapat menjaga kesehatan tubuh, memperkuat sistem kekebalan tubuh, menetralisir radikal bebas, membantu sistem pernafasan.
2.Sirop buah
3.Cocktail
4.Kapsul atau tablet xanthone yang terdiri dari kandungan bahan polyphenol yang bermanfaat untuk kesehatan dan menjadikan penciri warna pada tanaman, serta bahan flavonoid yang memberi efek citarasa
5.Sebagai obat anti kanker (Suksamrarn et.al., 2006)
6.Supplement untuk diet
7.Bahan pewarna
8.Berdasarkan beberapa penelitian diketahui pula bahwa
a.Rebusan kulit buah manggis mempunyai efek antidiare.
b.Buah manggis muda memiliki efek speriniostatik dan spermisida.
c.Ekstrak (n-heksana dan etanol) manggis memiliki tingkat ketoksikan tertentu pada penggunaan metode uji Brine Schrimp Test (BST).
d.Dari hasil suatu penelitian dilaporkan bahwa Mangostin (1,3,6-trihidroksi-7-metoksi-2,8-bis(3metil-2-butenil)-9H-xanten-9-on) hasil isolasi dari kulit buah mempunyai aktivitas antiinflamasi dan antioksidan.
e.Dari hasil studi farmakologi dan biokimia dapat diketahui bahwa mangostin secara kompetitif menghambat tidak hanya reseptor histamin H, mediator kontraksi otot lunak tetapi juga epiramin yang membangun tempat reseptor H1, pada sel otot lunak secara utuh. Mangostin merupakan tipe baru dari histamin.
f.Pemberian ekstrak daun muda terhadap mencit bunting dengan dosis 500, 1000, 1500 mg/kg BB, menunjukkan efek pada fetus berupa penurunan berat badan, terjadinya perdarahan pada fetus, dan adanya perubahan jaringan hati fetus seperti nekrosis pada sel hepar, tetapi tidak terjadi kelainan perkembangan dan aborsi. Ekstrak daun manggis dengan berbagai dosis dapat mengurangi jumlah sel spermatid, terjadi penambahan jumlah spermatozoa abnormal, dan lambatnya gerak maju spermatozoa mencit. Di masyarakat, buah digunakan untuk mengobati diare, radang amandel, keputihan, disentri, wasir, borok; di samping itu digunakan sebagai peluruh dahak, dan juga untuk sakit gigi. Kulit buah digunakan untuk mengobati sariawan, disentri, nyeri urat, sembelit. Kulit batang digunakan untuk mengatasi nyeri perut. Akar untuk mengatasi haid yang tidak teratur (Tanaman Obat Indonesia, 2005).
Berdasarkan informasi tersebut dilakukan analisis prospektif atas beberapa produk olahan manggis seperti : Sirup, juice, cocktail, bahan pewarna makanan maupun tekstil dan tepung xanthon sebagai bahan baku farmasi.

Produk olahan yang dapat dibuat dari masing-masing komponen buah tersebut adalah sebagai berikut :
KOMPONEN BUAH
PRODUK OLAHAN
Kulit Buah
1. Bahan Pewarna
2. Bahan Farmasi
Daging Buah
1. Juice
2. Cocktail
3. Sirup
Daun Kelopak Buah
1. Bahan Kompos
Biji
1. Bahan Benih

Kulit Buah Manggis Sebagai Bahan Farmasi
Pada umumnya masyarakat memanfaatkan tanaman manggis karena buahnya yang menyegarkan dan mengandung gula sakarosa, dekstrosa, dan levulosa. Komposisi bagian buah yang dimakan per 100 gram meliputi 79,2 gram air, 0,5 gram protein, 19,8 gram karbohidrat, 0,3 gram serat, 11 mg kalsium, 17 mg fosfor, 0,9 mg besi, 14 IU vitamin A, 66 mg vitamin C, vitamin B (tiamin) 0,09 mg, vitamin B2 (riboflavin) 0,06 mg, dan vitamin B5 (niasin) 0,1 mg. Kebanyakan buah manggis dikonsumsi dalam keadaan segar, karena olahan awetannya kurang digemari oleh masyarakat.
Selain buah, kulit buah manggis bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan. Kulit buah mengandung senyawa xanthone yang meliputi mangostin, mangostenol, mangostinon A, mangostenon B, trapezifolixanthone, tovophyllin B, alfa mangostin, beta mangostin, garcinon B, mangostanol, flavonoid epicatechin, dan gartanin. Senyawa tersebut sangat bermanfaat untuk kesehatan. Senyawa xanthone tersebut hanya dihasilkan dari genus Garcinia. Di luar negeri kulit buah manggis sudah dibuat kapsul yang digunakan untuk suplemen diet, antioksidan, dan antikanker.
Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak kulit manggis mempunyai aktivitas melawan sel kanker meliputi breast, liver, dan leukemia. Selain itu, juga digunakan untuk antihistamin, antiimpflamasi, menekan sistem saraf pusat, dan tekanan darah, serta antiperadangan. sedangkan dan getah kuning dimanfaatkan sebagai bahan baku cat dan insektisida.Efek biologi & farmakologi
Rebusan kulit buah manggis mempunyai efek antidiare. Buah manggis muda memiliki efek speriniostatik dan spermisida. Ekstrak (n-heksana dan etanol) manggis memiliki tingkat ketoksikan tertentu pada penggunaan metode uji Brine Schrimp Test (BST). Dari hasil penelitian dilaporkan bahwa alfa mangostin (1,3,6-trihidroksi-7-metoksi-2,8-bis (3metil-2-butenil)-9H-xanten-9-on) hasil isolasi dari kulit buah manggis mempunyai aktivitas antiinflamasi dan antioksidan. Dari hasil studi farmakologi dan biokimia dapat diketahui bahwa alfa mangostin secara kompetitif menghambat tidak hanya reseptor histamin H, mediator kontraksi otot lunak tetapi juga epiramin yang membangun tempat reseptor H1 pada sel otot lunak secara utuh.
Mangostin merupakan tipe baru dari histamin. Toksisitas pemberian ekstrak daun muda terhadap mencit bunting dengan dosis 500, 1000, dan 1500 mg/kg BB menunjukkan efek pada fetus berupa penurunan berat badan, terjadinya perdarahan pada fetus, dan adanya perubahan jaringan hati fetus seperti nekrosis pada sel hepar, tetapi tidak terjadi kelainan perkembangan dan aborsi. Ekstrak daun manggis dengan berbagai dosis dapat mengurangi jumlah sel spermatid, terjadi penambahan jumlah spermatozoa abnormal, dan lambatnya gerak maju spermatozoa mencit.
Ekstrak kulit buah yang larut dalam petroleum eter ditemukan dua senyawa alkaloid. Kulit kayu, kulit buah, dan lateks kering Garcinia mangostana mengandung sejumlah zat warna kuning yang berasal dari dua metabolit yaitu alfa-mangostin dan mangostin yang berhasil diisolasi. Mangostin merupakan komponen utama sedangkan mangostin merupakan konstituen minor. Ditemukan metabolit baru yaitu 1,3,6,7-tetrahidroksi-2,8-di (3-metil-2butenil) xanton yang diberi nama a-mangostanin dari kulit buah Garcinia mangostana.
Buah manggis digunakan untuk mengobati diare, radang amandel, keputihan, disentri, wasir, luka/borok. Selain itu, digunakan sebagai peluruh dahak dan untuk sakit gigi. Kulit buah manggis digunakan untuk mengobati sariawan, disentri, nyeri urat, sembelit. Kulit batang digunakan untuk mengatasi nyeri perut. Akar untuk mengatasi haid yang tidak teratur. Dari segi rasa, buah manggis cukup potensial untuk dibuat sari buah.
Cara pemakaian :
Untuk mengobati disentri digunakan kulit dari buah manggis, dicuci dan di potong-potong, direbus dengan 4 gelas air sampai volume tinggal 1/2 gelas, setelah dingin disaring lalu diminum dengan madu bila perlu (2 x sehari 3/4 gelas).
Untuk mengobati mencret digunakan kulit dari 2 buah manggis yang masak, dicuci dan dipotong-potong direbus dengan 3 gelas sampai air sampai volume tinggal 1/2-nya, setelah dingin disaring kemudian diminum dengan madu bila perlu (2 x sehari 3/4gelas).
Untuk mengobati sariawan digunakan kulit dari 2 buah manggis yang masak, dicuci, dan dipotong-potong direbus dengan 3 gelas sampai air sampai volume tinggal 1/2-nya, setelah dingin disaring kemudian dikumur dan terus diminum (3-6 x sehari 2 sendok makan).
Kulit Buah Manggis Sebagai Bahan Pewarna
Kulit buah juga mengandung antosianin seperti cyanidin-3-sophoroside, dan cyanidin-3-glucoside. Senyawa tersebut berperan penting pada pewarnaan kulit manggis. Kulit buahnya mengandung senyawa pektin, tanin, dan resin yang dimanfaatkan untuk menyamak kulit dan sebagai zat pewarna hitam untuk makanan dan industri tekstil. Yang dimaksud industri tekstil disini adalah batik.
Kulit buah manggis mengandung 2 senyawa alkaloid, serta lateks kering manggis mengandung sejumlah pigmen yang berasal dari 2 metabolit, yaitu mangostin dan β-mangostin, yang jika diekstraksi dapat menghasilkan warna merah, ungu, dan biru. Pigmen antosianin paling cocok diaplikasikan sebagai pewarna pada soft drink, karena pada umumnya soft drink bersifat asam.
Batik merupakan salah satu kerajinan khas Indonesia. Sebagian besar masyarakat sudah mengenal berbagai coraknya, baik yang tradisional maupun modern. Sayangnya, kini banyak perajin batik yang kesulitan meningkatkan produksinya, karena harga bahan baku yang makin mahal, termasuk pewarna sintetis.
Selama ini, kebanyakan perajin masih menggunakan pewarna sintetis impor. Selain harganya cukup mahal, penggunaan pewarna sistesis juga membahayakan manusia serta lingkungan hidup, karena bersifat karsinogenik dan merusak lingkungan.
Sebagian industri batik rumahan di Pekalongan, yang merupakan sentra batik, membuang limbahnya ke sungai tanpa ada pengolahan terlebih dulu. Akibatnya, air sungai menjadi tercemar dan tak dapat dimanfaatkan lagi.
Lebih dari itu, air sungai yang telah tercemar meresap ke sumur-sumur penduduk. Padahal, sumur itu menjadi sumber air utama untuk keperluan hidup sehari-hari. Keadaan ini sudah berlangsung lama dan hingga kini belum teratasi.
Penggunaan pewarna alami menyebabkan warna batik terasa lebih sejuk. Itu sebabnya, batik warna alami lebih diminati wisatawan mancanegara daripada batik dengan pewarna sintetis.
Penggunaan pewarna alami perlu disosialisasikan kepada masyarakat terutama perajin batik. Apalagi proses pembuatannya sederhana, dengan menggunakan bahan yang banyak dijumpai di Indonesia, yaitu kulit buah manggis (Garcinia mangostana).
Kulit buah manggis mengandung flavan-3,4-diols, yang tergolong senyawa tanin, dan bisa digunakan sebagai pewarna alami pada kain. Tanin termasuk salah satu zat pewarna alami yang terdapat pada berbagai tumbuhan, termasuk kulit manggis.
Ketika bereaksi dengan logam, senyawa tanin membentuk zat warna mordan. Untuk mendapatkan pewarna kuning sampai coklat, yang sering digunakan pada batik tradisional, dapat memanfaatkan kulit manggis yang kaya tanin tersebut.
Prosedur yang perlu dilakukan untuk menghasilkan pewarna alami dari kulit manggis adalah sebagai berikut. Pertama, buah manggis dipisahkan dari buahnya, kemudian kulit dikeringkan. Setelah kering dihaluskan agar dalam ekstraksi bisa mendapatkan hasil sempurna.
Kedua, melarutkan kulit manggis yang telah diblender ke dalam petroleum eter. Bahan-bahan dari tanaman biasanya mengandung lemak atau lilin yang sangat non-polar. Petroleum eter termasuk senyawa non-polar, sehingga sering menyebabkan terbentuknya emulsi.
Karena itulah, senyawa-senyawa ini perlu dipisahkan dari bahan tanaman dengan cara perkolasi atau sokletsasi bahan tanaman dengan petroleum eter.
Ketiga, setelah lemak dipisahkan, kulit manggis diekstrak dengan menggunakan pelarut etanol 95 %. Etanol merupakan pelarut organik yang biasa digunakan dalam mengekstraksi senyawa alkaloid dari berbagai tumbuhan. Selain itu, etanol lebih ramah lingkungan daripada metanol.
Keempat, larutan basa berair diekstrak dengan kloroform. Proses ini dimaksudkan untuk memisahkan tanin dengan senyawa-senyawa lain.
Kelima, senyawa tanin yang didapatkan ini kemudian diuapkan untuk mendapatkan kristal berwarna coklat. Kristal inilah yang nantinya digunakan untuk mewarnai batik, melalui pencelupan warna. Selain kulit manggis, masih banyak senyawa yang bisa digunakan sebagai zat pewarna alami. Lebih bagus lagi ketika yang digunakan merupakan sesuatu yang selama ini dibuang begitu saja. Dengan begitu, otomatis kita telah meminimalisasi limbah di alam.

III. Analisis Biaya Produk Olahan Manggis
Menurut (Roni Kastaman, 2007) hasil perhitungan dengan menggunakan bahan dasar manggis sebanyak 1 kg sebagai bahan baku diperoleh nilai keuntungan tertinggi dicapai pada pengembangan produk sirup, cocktail dan bahan pewarna.
Nilai Ekonomi Produk Olahan Manggis
No
Uraian Produk
Volume/Berat Produk
Biaya Pokok Produksi
Harga Jual (Rp)
Profit (Rp)
1
Bahan Pewarna
0,1 Kg
2520
3000
280
2
Tepung Bahan Farmasi
0,1 Kg
3885
2100
215
3
Juice
1 Liter
8050
8500
250
4
Cocktail
1 Liter
10360
11000
620
5
Sirup
0,2 Liter
12020
15000
960
Keterangan :
1. Harga setelah pembulatan
2. Volume produk akhir diperoleh dari bahan baku awal 1 kg buah manggis segar
Analisis Biaya Produksi Pengolahan Kulit Buah Manggis untuk Bahan Pewarna
Uraian
Banyaknya
Satuan
Harga Satuan (Rp)
Total (Rp)
Bahan manggis 10 kg susut menjadi 6.082 gram kulit buah
10
Kg
1800
18000
Bahan kimia pengekstraksi untuk 10 kg bahan
1
Preparat
7500
7500
Bahan pencampur
1
Preparat
1500
1500
Sewa peralatan proses (ekstraktor & pengering)
1
Set
2000
2000
Harga pokok untuk 10 kg bahan

29000
Hasil zat pewarna (35% dari kulit buah basah)
2.129
Gram

Upah tenaga kerja 20% harga pokok

11600
Biaya untuk kemasan 15% harga pokok

2350
Pajak 10% harga pokok

2900
Biaya komersial 20% harga pokok

5800
Keuntungan 10% harga pokok

2900
Harga jual produk per 2.129 gram

56550
Harga jual produk per gram

26,56
Harga jual produk per gram (dibulatkan)

30
Harga jual produk per 100 gram (1 ons)

3000
Catatan :
1. Asumsi : Peralatan proses produksi tidak dibeli tapi menyewa dari laboratorium pangan
2. Bahan baku untuk pembuatan bahan pewarna dalam hal ini sebanyak 10 Kg (bukan 1 Kg) mengingat hasil akhir yang diperoleh sedikit
Analisis Biaya Produksi Pengolahan Kulit Buah Manggis untuk Bahan Tepung Kulit Buah
Uraian
Banyaknya
Satuan
Harga Satuan (Rp)
Total (Rp)
Bahan manggis 10 kg susut menjadi 1.000 gram kulit buah kering
10
Kg
1800
18000
Sewa peralatan proses (penepung & pengering)
1
Set
3000
3000
Harga pokok untuk 10 kg bahan

21000
Hasil berupa tepung kulit buah kering
1.000
Gram

Upah tenaga kerja 20% harga pokok

8200
Biaya untuk kemasan 15% harga pokok

3150
Pajak 10% harga pokok

2100
Biaya komersial 20% harga pokok

2200
Keuntungan 10% harga pokok

2100
Harga jual produk per 1.000 gram

20950
Harga jual produk per gram

20.95
Harga jual produk per gram (dibulatkan)

21
Harga jual produk per 100 gram (1 ons)

4100
Asumsi : Peralatan proses produksi tidak dibeli tapi menyewa dari laboratorium pangan
Apabila dihitung dari harga dasar penjualan buah manggis segar maka nilai tambah yang diberikan dari alternatif produk olahan tersebut adalah sebagai berikut :
Nilai Tambah Produk Olahan Manggis
No
Produk
Harga Jual Produk (Rp)
Nilai Tambah Menurut Harga Jual Produk (Rp)
Perubahan Profit (Rp)
1
Manggis segar
1800
-
-
2
Bahan pewarna
3000
1200
280
3
Tepung kulit buah
2100
2300
215
4
Juice
8500
6700
250
5
Cocktail
11000
9200
620
6
Sirup
15000
13200
960
Persentase Profit Produk Olahan Terhadap Harga Jual Manggis Segar
No
Produk Olahan
Profit (Rp)
Persentase Profit Terhadap Harga Jual Manggis Segar (%)
1
Bahan pewarna
280
26,67
2
Tepung kulit buah
215
11,92
3
Juice
250
25,00
4
Cocktail
620
35,56
5
Sirup
960
53,33
Dengan demikian secara keseluruhan, dengan adanya pengembangan produk olahan manggis menjadi bahan pewarna, tepung kulit buah, juice, cocktail, dan sirup secara ekonomi memiliki prospek jual yang baik.
IV. Materi
Materi yang dipakai dalam pengolahan buah manggis ini hanya menggunakan keseluruhan bagian dari buah manggis itu sendiri. Artinya tidak banyak menggunakan bahan-bahan dari luar yang dapat membahayakan tubuh. Seperti, menggunakan kulit buah untuk membuat bahan pewarna dan bahan farmasi. Menggunakan daging buah untuk membuat juice, coktail, sirup. Menggunakan daun kelopak buah untuk membuat bahan kompos, dll.

Eco-efisiensi
Alternatif baru bahan pewarna dari kulit buah manggis ini bisa menghasilkan efisiensi biaya dari bahan baku. Karena selama ini petani kebanyakan menjual manggis dalam bentuk segar dengan cara penanganan pasca panen yang masih terbatas, sehingga umur konsumsinya menjadi terbatas. Apabila hal ini dibiarkan terus menerus, buah manggis akan terbuang dengan percuma bahkan akan menjadi limbah dan tidak mempunyai nilai ekonomis sama sekali. Dengan adanya alternatif baru yaitu pengolahan kulit buah manggis menjadi bahan pewarna dapat meningkatkan nilai ekonomis dari buah manggis itu sendiri. Hal ini bisa kita bandingkan, harga jual produk manggis segar yaitu Rp. 1.800,- akan tetapi bila buah manggis tersebut diolah menjadi bahan pewarna harganya menjadi Rp. 3.000,- mengalami keuntungan sebesar Rp. 1.200,-

Produk Baru
Diversifikasi produk olahan dari kulit buah manggis menjadi bahan pewarna merupakan salah satu upaya yang dapat membantu petani dalam meningkatkan nilai tambah dari hasil usahanya dan mengurangi ketergantungan pada bandar karena menjual manggis dalam bentuk segar yang harganya relatif lebih rendah dari harga pasar. Untuk itu pengolahan bahan pewarna ini sebaiknya trus dikembangkan.

PUSTAKA

Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (2004). Pedoman Umum Pelaksanaan Program/Proyek Pengembangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Jakarta. Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian

Roni Kastaman. 2006. Pengembangan Model Agroindustri dan Pemasaran Terpadu Komoditi Manggis di Kabupaten Tasikmalaya. Laporan Kajian pengembangan komoditi manggis. Kerjasama LPM UNPAD dengan Direktorat Jenderal P2HP Departemen pertanian.

Roni Kastaman. 2004. Pengantar Ekonomi Teknik untuk Pengembangan Kewirausahaan. Giratuna-Eloc UNPAD.

Roni Kastaman. 2007. Analisis Prospektif Pengembangan Produk Olahan Manggis (Garcinia mangostana) Dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan Petani (Studi Kasus Di Kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmalaya). Available online at http://resources.unpad.ac.id (Diakses pada tanggal 14 November 2008 pukul 11.21)

Suksamrarn S, Komutiban O, Ratananukul P, Chimnoi N, Lartpornmatulee N, Suksamrarn A. 2006. Chemical & Pharmaceutical Bulletin Vo. 54 (2006). No. 3 p.301 Department of Chemistry, Faculty of Science, Srinakharinwirot University, Sukhumvit, Bangkok, Thailand. sunit@swu.ac.th

Tati Sukarti, Roni Kastaman, Dwi Purnomo. 2008. Teknologi dan Pengembangan Bahan Pewarna dari Kulit Buah Manggis. Di dalam Workshop Roadmap dan Teknologi Pengembangan Agroindustri Buah Manggis Dalam Upaya Akselerasi Ekspor.

http://www.rusnasbuah.or.id/template.php?l=db_menu.php&m=com_home.php&com_id=7 (Diakses pada tanggal 14 November 2008 pukul 11.25)

http://anekaplanta.wordpress.com/2007/12/26/kulit-buah-manggis-sebagai antioksidan/ (Diakses pada tanggal 14 November 2008 pukul 11.32)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0711/12/ragam05.htm (Diakses pada tanggal 14 November 2008 pukul 11.40)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar