Senin, 16 Mei 2011

Psoriasis, si Misterius yang Kerap Diabaikan

Awalnya Mutia tak menduga kalau ketombe berlebihan yang dialaminya pada usia 16 tahun merupakan suatu tanda awal penyakit kulit yang bakal menderanya selama 18 tahun.

Berbagai produk shampo untuk menghilangkan ketombe telah dicobanya. Namun, semua tak berhasil. Belum lagi selesai masalah ketombe, di kulit bagian leher dan belakang telinga Mutia tiba-tiba terkelupas kecil dan lambat laun kian melebar.

Akhirnya, setelah diperiksa ke dokter, Mutia pun memeriksakan diri ke dokter."Untungnya langsung didiagnosis psoriasis," kata public relations di sebuah perusahaan ini.

Sebetulnya, apalah psoriasis itu? Menurut dr. Danang Sp. KK, yang juga Ketua Yayasan Peduli Psoriasis Indonesia, psoriasis adalah "penyakit sistemik (internal/dalam) yang disebabkan kelainan pada sistem kekebalan tubuh."

Danang memaparkan, penyakit psoriasis kadang masih kesulitan untuk didiagnosis lantaran gejala luarnya hampir sama dengan eksim (kulit tampak meradang dan terkena iritasi)."Karena kemiripannya, pada awalnya penderita sering mengabaikan gejala yang timbul," kata Danang yang ditemui pada Seminar Psoriasis,di Senayan, Minggu (15/2).

Keunikan lain dari psoriasis adalah tidak ada gejala yang sama persis untuk tiap pasien. "Misalnya, gatal di kulit, belum tentu semua penderita psoriasis mengalaminya,"

Secara umum karakteristik psoriasis bisa diidentifikasi sebagai berikut. Pada kulit penderita awalnya tampak seperti bintik merah yang makin melebar. Kondisi ini diikuti dengan tumbuhnya sisik lebar putih berlapis sehingga tampak menebal. Lokasi timbulnya sisik ini tidak selalu di seluruh tubuh melainkan di bagian tertentu. Misalnya, pada siku, lutut, kulit kepala, dan kuku.

Karena sifatnya yang residif (hilang-timbul), maka kulit penderita prosiasis bisa segera membaik seperti kulit normal lainnya. Hal ini biasanya terjadi setelah warna kulit yang tadinya kemerahan berubah putih atau kehitaman.

Mengapa demikian? Penderita psoriasis mengalami proses pergantian kulit yang sangat cepat. Jika normalnya pergantian kulit pada manusia berlangsung selama 21-28 hari, pada penderita psoriasis bisa terjadi hanya dalam 2-4 hari.

Tidak Menular
Walaupun belum ditemukan secara pasti penyebab psoriasis, namun sejauh ini para dokter yang meneliti berpendapat penyakit kronis tersebut bersifat genetis. "Jadi bisa diturunkan. Kalau satu orang di keluarga terkena, kemungkinan keturunannya 15% bisa terkena juga," papar Danang seraya menegaskan psoriasis sama sekali tidak menular.

Kendati demikian, ada sejumlah pemicu yang diperkirakan dapat menimbulkan psoriasis. Di antaranya, garukan/gesekan dan tekanan yang berulang-ulang, emosi tidak terkendali, infeksi (sering terjadi pada infeksi saluran nafas bagian atas/ISPA), makanan berkalori sangat tinggi dan mengandung alkohol, serta obat oral tertentu (mis. obat antihipertensi dan antibiotik).

Pada beberapa kasus, penderita psoriasis bisa mengalami komplikasi serius. Misalnya, psoriasis arthritis (menyerang persendian), psoriasis postula (bernanah), serta psoriasis eritoderma (kulit penderita kehilangan fungsi perlindungan, sehingga penderita mudah terkena infeksi dan dapat mengakibatkan kematian).

Hingga saat ini, psoriasis belum bisa disembuhkan. Pengobatan yang ada hanya bersifat menekan gejala yang muncul, memperbaiki keadaan kulit, dan mengurangi rasa gatal. Penderita psoriasis biasanya akan menggunakan obat-obat tersebut hampir sepanjang hidupnya.

Jenis pengobatan yang umumnya digunakan adalah obat oles, obat oral, penyinaran (dengan ultraviolet B/A serta laser excimer), hingga cara mutakhir dengan terapi biologis. Biayanya memang masih tergolong mahal karena obat yang dibutuhkan tidak mudah didapatkan di Indonesia. Ditambah lagi, belum banyak rumah sakit di Indonesia yang menyediakan pengobatan maupun layanan informasi seputar psoriasis.

Di samping pengobatan di atas, penderita psoriasis pun perlu menjalani diet khusus. Salah satunya, menurut dr. Ekky M. Rahardja, MS, SpGK adalah dengan menjadi vegetarian.

"Memang belum ada penelitian untuk itu. Tapi, dari data-data yang saya temukan, pola makan vegetarian banyak membantu para penderita psoriasis," ujar Ekky.

Selain itu, untuk beberapa kasus, pasien perlu mendapat pendampingan dari psikolog. Hal ini dikarenakan penderita mengalami stress lantaran dampak sosial (seperti dijauhi dalam pergaulan serta hilangnya kepercayaan diri) yang dialaminya.

Astri
Foto: Dok. Yayasan Peduli Psoriasis Indonesia (www.psoriasisindonesia.org)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar