Minggu, 08 Mei 2011

Sekolah yang Menggairahkan

Perkembangan otak yang paling pesat terjadi pada rentang usia 0-8 tahun, baik secara fisik maupun intelektual. Delapan puluh persen perkembangan otak terjadi antara usia nol sampai dengan enam tahun.
Selama rentang waktu tersebut, IQ anak dapat melonjak secara drastis jika memperoleh rangsangan yang tepat dari orangtua maupun pengasuh di day-care –kita menyebutnya TPA—dan play-group. Selanjutnya, peran strategis tersebut dipegang oleh guru TK dan SD kelas bawah, yakni kelas satu sampai dengan kelas tiga (itu sebabnya, perencanaan kurikulum TK perlu dikerjakan bersama dalam satu kesatuan dengan penyusunan kurikulum SD). Inilah masa paling penting untuk memba­ngun budaya belajar. Jika pada masa ini anak sudah memiliki budaya belajar yang tinggi, anak akan mudah mempelajari kecakapan belajar (learning skills) pada pe­riode berikutnya, yakni orientation stage, termasuk membangun orientasi hidup maupun ori­entasi akademiknya.
Jadi, yang perlu kita bangun pada masa awal perkembangan anak di sekolah adalah budaya belajar (learning culture). Bukan sekedar kebiasaan belajar (learning habit) dimana anak belajar karena sekolah memang menciptakan lingkungan akademik yang menuntut anak belajar, termasuk di dalamnya memberikan tugas-tugas. Setingkat lebih baik adalah munculnya ke­biasaan belajar karena lingkungan akademik yang merangsang gairah anak belajar. Anak bersemangat di sekolah sehingga kegiatan belajar terasa menyenangkan.
Apakah sebenarnya semangat itu? Keterlibatan emosi saat melakukan suatu kegi­atan sehingga kita merasakan situasi yang mengalir. Keadaan ini bisa terjadi karena hati kita yang gembira, peristiwa sebelumnya yang meluapkan perasaan positif, suasana yang menye­nangkan, guru-guru yang mengajar dengan antusiasme yang menyala-nyala, rancangan ling­kungan fisik sekolah yang menggugah, dan berbagai aspek lain yang mempengaruhi emosi saat belajar. Semakin tinggi keterlibatan emosi saat belajar, semakin efektif otak kita bekerja. Belajar seharian penuh, tetapi anak merasakannya seperti bermain. Asyik dan menyenang­kan.
Sekolah yang menerapkan model belajar sehari penuh (full day), harus memperha­tikan ini. Sekolah harus merancang kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, antusias dan positif agar anak memiliki semangat menyala-nyala saat belajar. Jika tidak, anak bisa meng­alami stress karena beban belajar yang melampaui “ambang kesanggupan mental”. Stress yang berlangsung secara terus-menerus bukan saja melemahkan kemampuan anak. Lebih dari itu, stress berkelanjutan merusak mental dan kepribadian.
‘Alaa kulli hal, ada hal lain yang perlu kita perhatikan. Suasana belajar yang menye­nangkan, guru-guru yang mengajar dengan penuh antusiasme dan rangsangan fisik sekolah yang menggugah memang mempengaruhi emosi anak. Mereka belajar dengan penuh sema­ngat. Tetapi semangat yang meluap-luap hanyalah bekal awal. Perlu ada upaya terencana membangun motivasi anak –tidak terkecuali guru—sehingga melahirkan budaya belajar yang kuat.
Istilah motivasi sering jumbuh dengan semangat. Saya sendiri kadang mengguna­kan dua istilah tersebut secara tidak tepat. Jika semangat adalah keterlibatan emosi saat me­lakukan aktivitas, maka motivasi adalah alasan yang menggerakkan seseorang untuk bertin­dak. Semakin kuat motivasi seseorang, semakin menyala semangatnya. Artinya, motivasi me­rupakan salah satu faktor pemacu semangat anak. Semakin kuat motivasi, semakin menyala-nyala semangat dalam diri anak.
Budaya belajar (learning culture) sangat dipengaruhi oleh kekuatan motivasi. Jika a­nak memiliki alasan yang kuat untuk bertindak, dan alasan itu mengakar dalam dirinya, maka ia akan memiliki energi untuk terus belajar. Semakin kuat ia membentuk budaya belajar da­lam dirinya, semakin tangguh semangatnya menggali ilmu meskipun lingkungan sekeliling tak sebaik dulu. Ini berarti, kuatnya budaya belajar menjamin berlangsungnya kebiasaan be­lajar (learning habit) hingga jenjang pendidikan berikutnya, meskipun suasana belajar di jen­jang tersebut tak sebaiknya jenjang sebelumnya.
Inilah yang perlu kita sadari ketika ingin mengembangkan budaya belajar. Lingkung­an yang mendukung memang sangat perlu. Guru-guru yang ramah, hangat dan bersahabat juga tak dapat ditawar-tawar. Begitu pula lingkungan fisik sekolah yang merangsang minat belajar, betapa pun sederhananya, sangat diperlukan.
Tetapi…
Tanpa membangun motivasi intrinsik yang kuat, anak-anak itu bisa kehilangan gai­rah belajarnya –bahkan perilaku positifnya—begitu mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketika masih berada di jenjang sekolah dasar, semangat belajarnya sangat tinggi dan prestasi akademiknya menakjubkan. Begitu memasuki jenjang pendidikan berikut­nya, minat belajar ambruk dan perilakunya kurang terarah karena –misalnya—anak kecewa dengan sekolah barunya.
Pada kasus seperti ini, kita bisa menyalahkan jenjang pendidikan berikutnya. Tetapi sekolah sebelumnya, yakni SD, tetap ikut bertanggung-jawab atas kegagalannya membangun motivasi siswa. Keadaan ini bisa terjadi, antara lain karena pihak SD tidak bisa membedakan –atau sengaja tidak membedakan—antara kebiasaan belajar dan budaya belajar. Mirip sekali wujudnya, lain sekali hakekatnya.
Apa yang diperlukan untuk membangun motivasi intrinsik anak? Banyak hal. Yang sangat pokok adalah menanamkan keimanan yang aktif. Maksud saya, sekolah mengajarkan ‘aqidah kepada anak bukan hanya sebagai pengetahuan kognitif. Lebih dari itu, sebagaimana sifat ayat-ayat yang pertama diturunkan –secara umum ayat-ayat Makkiyah—menggerakkan mereka untuk bertindak karena Allah dan untuk Allah Yang Menciptakan. Sekolah mengge­rakkan jiwa anak-anak untuk meneguhkan diri bahwa shalatnya, ‘ibadahnya, hidupnya dan matinya hanya karena dan untuk Allah ‘Azza wa Jalla semata.
Artinya, ‘aqidah yang kuat menjadi daya penggerak (driving force) bagi anak untuk bertindak dan menentukan arah hidup.
Agar guru mampu menanamkan keimanan yang aktif dengan ‘aqidah shahihah, tak dapat ditawar-tawar lagi ‘aqidah mereka juga harus kuat. Sedemikian kuatnya sehingga keti­ka berbicara, yang berkelebat dalam benaknya bukan sekedar teknik berbicara, tetapi sudah menyatu dalam dirinya kata-kata bertenaga yang menggelorakan motivasi anak-anak dan membakar semangat mereka untuk melakukan yang terbaik. Kata-kata ini mengalir setiap saat karena memang sudah menyatu dalam diri guru.
Di luar itu, secara terencana sekolah dapat mengadakan kegiatan yang secara khu­sus dimaksudkan untuk membangun motivasi anak, baik yang bersifat harian, mingguan, bu­lanan, tahunan atau berdasar rencana kegiatan insidentil. Motivasi harian misalnya diwujud­kan dalam bentuk kegiatan apel motivasi setiap pagi.
Selebihnya, guru perlu memberi tantangan yang cukup agar motivasi tersebut ter­tanam lebih kuat. Tanpa tantangan, anak tidak belajar hidup dalam “dunia nyata”. Apalagi jika mereka hanya kita besarkan dengan fasilitas, tanpa tantangan akan membuat mereka se­perti ayam sayur. Bukan ayam kampung yang tak jatuh oleh panas dan tak tersungkur oleh hujan.
Artinya, harus ada keseimbangan antara fasilitas dan tantangan. Awalnya tantang­an sederhana yang bersifat fisik, lalu secara berangsur kita hadapkan pada tantangan yang lebih memeras pikiran dan tenaga. Pada akhirnya, kita tumbuhkan pada diri mereka kepekaan untuk membaca tantangan bagi keyakinan dan ummat ini.
Wallahu a’lam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar